IPTEK dan Kedirgantaraan

Belajar Deteksi Tanah Longsor dari Profesor Aceh

Namanya Teuku Faisal Fathani. Dari namanya, jelas dia berasal dari negeri Serambi Mekah, Aceh. Kini di depan namanya, sudah tercantum predikat paling tinggi sebagai akademisi di Indonesia, yaitu profesor.

Bukan sembarang profesor, karena Faisal – begitu biasa kami menyapa – adalah ahli di bidang deteksi dini bencana alam wabil khusus tanah longsor. Indonesia memang salah satu negara dengan tingkat bencana alam tanah longsor yang tinggi. Setiap tahun selalu ada kejadian tanah longsor di berbagai daerah. Yang paling baru, terjadi di sebuah desa adat di Sukabumi akhir Desember 2018 kemarin, yang menewaskan lebih dari 20 warga.

Faisal menempuh pendidikan teknik di UGM yang berlanjut lebih spesifik ke bidang geotechnical. Pria yang kemudian menjadi dosen teladan nasional 2013 ini, meraih gelar doktor dari sebuah universitas di Jepang. Lulusan SMA Taruna Nusantara angkatan pertama ini, rajin melakukan riset terkait mitigasi bencana khususnya deteksi dini tanah longsor.

Bersama para koleganya di Universitas Gajah Mada selama bertahun-tahun, Faisal melakukan riset terhadap tanah longsor. Sejumlah lokasi yang rawan dan pernah mengalami tanah longsor didatangi dan ditelitinya. Hasilnya, pada 2015, dosen berprestasi nasional itu sukses membuat serta menyempurnakan alat deteksi dini berteknologi mutakhir, yang dirintisnya sejak pertengahan tahun 2000-an.

Sebuah alat yang kemudian mendapatkan penghargaan khusus dari pemerintah dan diakui oleh dunia internasional. Berkali-kali, putra Aceh itu diundang berbagai lembaga dunia mengupas tuntas deteksi dini bencana alam. Dia mengharumkan nama bangsa dan negara melalui alat deteksi dini tanah longsor.

Pada 2015 itulah, nama Faisal Fathani tercatat dalam paten internasional untuk lima macam temuan yang kesemuanya adalah di bidang deteksi dini tanah longsor. Tak berlebihan jika dikatakan bahwa Faisal telah membuka mata bangsanya sendiri bahwa Indonesia butuh lebih banyak ilmuwan yang piawai di bidang kebencanaan.

Apalagi, alat deteksi dini ciptaannya bermanfaat bukan hanya untuk peringatan dini tanah longsor saja melainkan juga deteksi dini banjir, lahar, dan sedimen debris.  Varian alatnya mencapai 40 macam, mulai dari yang paling sederhana sampai yang paling canggih.

Negeri ini adalah pusatnya beragam bencana dunia. Mulai dari letusan gunung berapi (karena punya lbh dari 120 gunung api aktif), gempa bumi (Karena berada di banyak sekali lempeng dunia), tsunami (sebagai efek dari gempa), tanah longsor (karena terdiri dari banyak pulau dengan curah hujan tinggi dan perilaku manusia), banjir (curah hujan dan perilaku manusia), angin topan dan lain-lain. Setiap tahun, negeri ini selalu dipenuhi bencana alam. Sebagai contoh gempa bumi, yang terjadi lebih dari 6.000 kali pertahun.

Kehadiran ahli kebencanaan menjadi teramat penting. Alat deteksi dini tanah longsor buatan prof Faisal sudah menyelamatkan banyak orang. Tidak hanya di Indonesia (sudah terpasang di sekitar 100 kab/kota), melainkan juga di beberapa negara lainnya (lebih dari 5 negara).

Deteksi dini seperti yang dikisahkan dalam film Hollywood – San Andreas, bukan lagi hanya cerita fiksi. Dalam film itu, jutaan orang dapat terselamatkan di USA, berkat kemampuan seorang ahli gempa bumi dalam memitigasi dan mendeteksi dini kemungkinan munculnya gempa bumi dahsyat.

Namun, Indonesia masih kekurangan ahli di bidang kebencanaan. Tolong sebutkan siapa ahli gunung berapi asal Indonesia yang Anda kenal? Sebutkan pula ahli banjir? Adakah ahli angin puting beliung? Atau mungkin Anda bisa menyebutkan ahli tsunami orang Indonesia? Nyaris tidak ada.

Lebih banyak komentator di bidang sepakbola, atau politik atau para pakar ekonomi. Atau kalau pun ada pakar bencana, keahliannya belum diakui dunia internasional. Kini, kita punya profesor Teuku Faisal Fathani. Ahli tanah longsor dengan lima paten khusus di bidang itu, pencipta alat deteksi dini tanah longsor, yang diakui para ahli di dunia dan dapat penghargaan dari Unesco.

Saya mengenal Faisal sejak usia belasan, ketika bersama-sama belajar di dusun Pirikan Magelang. Dia orang yang sederhana, bersahaja, namun sangat lempeng dan jujur. Ulet dan tekun serta cerdas sudah pasti, sehingga tak heran jika dia sukses menjadi mahasiswa terbaik ketika kuliah dan dosen teladan serta berprestasi tinggi (peraih penghargaan tertinggi peneliti – Academic Leader/Adibrata 2017).

Namun saya masih terkaget-kaget dan kagum dengan pilihannya terhadap tanah longsor. Tak banyak orang atau mungkin tak ada akademisi Indonesia yang mau meneliti tanah longsor sedemikian serius. Kenapa? 

Ternyata semua itu berawal dari kawasan Menoreh di Jawa Tengah/Yogyakarta yang rawan tanah longsor. Faisal melihat kawasan itu pernah dilanda longsor namun tak ada upaya mitigasi bencana apalagi sistem peringatan dini. Tentu kondisi itu sangat berbahaya dan merugikan masyarakat. Hadiah alat deteksi dini dari Jepang untuk Indonesia beberapa waktu kemudian menjadi pemicu lainnya.

Ketika alat itu rusak, tak ada yang mampu memperbaiki. Kecuali dibawa kembali ke Jepang dan diperbaiki oleh perusahaan pembuatnya. Hal itu membuat Faisal bertekad membuat sendiri alat deteksi dini tanah longsor. Lalu sebuah peristiwa besar semakin menambah semangatnya untuk berkarya dalam bidang kebencanaan, yaitu gempa dan tsunami di Aceh.

“Ketika terjadi gempa dan tsunami di Aceh akhir tahun 2004, saya sedang studi S-3 di Jepang. Ini dilema yang berat bagi saya karena keluarga dan sanak saudara menjadi korban bencana tepat ketika saya sedang belajar tentang bencana. Kejadian ini mengubah pandangan hidup saya, memacu semangat dan motivasi untuk berkarya di bidang mitigasi bencana,” ujar bapak 3 orang anak ini.

Tak ada yang kebetulan di dunia ini. Teuku Faisal Fathani, pria asal Aceh tersebut kini menjadi salah satu ahli kebencanaan kebanggaan Indonesia. Saya pribadi berharap, akan muncul akademisi dan ahli lain di bidang kebencanaan.

Bukan hanya tanah longsor, melainkan juga gunung berapi, angin puting beliung, gempa bumi, dan tsunami. Miris rasanya mendengar alat deteksi dini tsunami yang berharga miliaran rupiah rusak karena tangan jahil sehingga memakan banyak korban jiwa.

Sedih karena anak bangsa ini  belum mampu bikin alat deteksi dini tsunami. Andai ada beberapa Prof Faisal lainnya yang tergugah menciptakan alat deteksi dini tsunami, tentu korban jiwa bisa berkurang. 

Sumber:https://www.kompasiana.com/penuliskreatif/5c3328dfbde5755574509902/belajar-deteksi-tanah-longsor-dari-profesor-aceh

Dodi Mawardi

Dodi Mawardi

Penulis profesional & pembicara bidang jurnalistik/komunikasi. Berpengalaman mengelola perusahaan dan bisnis. Hidup begitu berwarna. Alhamdulillah...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *