<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Sumber Daya Manusia &#8211; TNSatu Institute</title>
	<atom:link href="https://tnsatu.org/category/sdm/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://tnsatu.org</link>
	<description>Kita Satu Menuju Indonesia Satu</description>
	<lastBuildDate>Mon, 26 Jul 2021 10:39:00 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.4.8</generator>

<image>
	<url>https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2019/01/cropped-favicon-32x32.jpg</url>
	<title>Sumber Daya Manusia &#8211; TNSatu Institute</title>
	<link>https://tnsatu.org</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Selamat Bertugas Pak Wakapolda, Isir!</title>
		<link>https://tnsatu.org/2021/07/26/selamat-bertugas-pak-wakapolda-isir/</link>
					<comments>https://tnsatu.org/2021/07/26/selamat-bertugas-pak-wakapolda-isir/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Dodi Mawardi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 26 Jul 2021 08:47:11 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Sumber Daya Manusia]]></category>
		<category><![CDATA[adhi makayasa]]></category>
		<category><![CDATA[isir]]></category>
		<category><![CDATA[jenderal isir]]></category>
		<category><![CDATA[sma taruna nusantara]]></category>
		<category><![CDATA[sma tn]]></category>
		<category><![CDATA[tnsatu]]></category>
		<category><![CDATA[wakapolda sulut]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tnsatu.org/?p=5548</guid>

					<description><![CDATA[Selamat Bertugas Pak Wakapolda, Isir! Diakah yang akan jadi peraih bintang pertama dari TNSatu? Yang duluan bintangnya menempel di pundak.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Selamat Bertugas Pak Wakapolda, Isir!</p>



<p>Diakah yang akan jadi peraih bintang pertama dari TNSatu? Yang duluan bintangnya menempel di pundak. Posisi yang akan diembannya mensyaratkan hal tersebut terwujud dalam waktu singkat; Wakapolda Sulawesi Utara. Semua wakapolda di seluruh Polda berpangkat brigadir jenderal. Sudah tidak ada lagi yang berpangkat komisaris besar.</p>



<p>Putra Papua ini memang punya sinar benderang dalam kariernya. Cahaya bintang seolah selalu dekat dengannya. <strong>Johnny Eddizon Isir</strong> peraih Adhi Makayasa AKPOL 1996. Yang digantikannya di Polda Sulawesi Utara sebagai Wakapolda adalah peraih Adhi Makayasa AKPOL 1993. Yang terbaik menggantikan yang terbaik.</p>



<p>Isir punya deretan jabatan yang mentereng sebelum meraih bintang. Dia dipilih Jokowi sebagai Ajudan Presiden. Kemudian menjadi Kapolrestabes Medan dan Kapolrestabes Surabaya. Dua kota terbesar di Indonesia yang menjadi barometer karier seorang perwira polisi.</p>



<p>Dia memang layak meraih berbagai prestasi tersebut. Cerdas, tegas, pekerja keras, sekaligus ramah, baik hati, dan tidak sombong. Plus suka menolong dan humoris. Lengkap bukan?</p>



<p>Ah, selamat menjalankan tugas jenderal!</p>



<p>Engkau selalu membuat kami merasa bangga.</p>



<p>Sebelumnya, empat TNSatu sudah lebih dulu menempati posisi atau jabatan bintang, meski sampai 26 Juli ini bintangnya belum hinggap di pundak. <a rel="noreferrer noopener" href="https://tnsatu.org/2021/07/22/empat-calon-bintang-di-bulan-juli/" target="_blank"><strong>Lihat artikelnya di sini.</strong></a> (<em>Empat Calon Bintang di Bulan Juli)</em></p>



<p><strong>Riwayat Pendidikan:</strong></p>



<ul><li>SD Kristus Raja Jayapura (1981–1987)</li><li>SMP Negeri 2 Jayapura (1987—1990)</li><li>SMA Taruna Nusantara Magelang (1990—1993)</li><li>AKPOL Semarang (1993—1996)</li><li>PTIK (2001—2003)</li><li>Master Transnational Crime Prevention/MTCP, University of Wollongong Australia (2006)</li></ul>



<p><strong>Riwayat Jabatan:</strong></p>



<ol type="1"><li>Pamapta Polres Dili Timor Timur (1997—1998)</li><li>Kasat Serse Polres Maliana Timor Timur (1998—1999)</li><li>Kasat Shabara Polres Dili (1999)</li><li>KBO Serse Polres Surabaya Utara Polda Jatim (1999—2000)</li><li>Kanit Res Inte Polsek Krembangan Polres Surabaya Utara Polda Jatim (2000—2001)</li><li>Kapolsek Karangpilang Polres Surabaya Selatan (2003—2005)</li><li>Kanit I Sat II Ekonomi Dit Reskrim Polda Jatim (2007—2008)</li><li>Wakasat Serse Polwiltabes Surabaya (2008—2009)</li><li>Wakapolres Surabaya Selatan Polda Jatim (2009—2010)</li><li>Kanit II Sat I Pidum Ditreskrim Polda Jatim (2010—2011)</li><li>Kanit I Subdit II Hardabangta Ditreskrimum Polda Jatim (2011—2012)</li><li>Kasubdit III Tipikor Dirtreskrimsus Polda Papua (2012—2013)</li><li>Kapolres Jayawijaya (2013—2014)</li><li>Kapolres Manokwari (2014—2016)</li><li>Wadirreskrimum Polda Banten (2016)</li><li>Dosen Utama STIK PTIK (2016)</li><li>Dirreskrimsus Polda Riau (2017)</li><li>Ajudan Presiden RI (2017)</li><li>Irbidjemensdm II Itwil V Itwasum Polri (2019)</li><li>Analis Kebijakan Madya bidang Binkar SSDM Polri (2019)</li><li>Kapolrestabes Medan (2019)</li><li>Kapolrestabes Surabaya (2020)</li><li>Wakapolda Sulut (2021) – Sekarang</li></ol>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tnsatu.org/2021/07/26/selamat-bertugas-pak-wakapolda-isir/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Empat Calon Bintang Di Bulan Juli</title>
		<link>https://tnsatu.org/2021/07/22/empat-calon-bintang-di-bulan-juli/</link>
					<comments>https://tnsatu.org/2021/07/22/empat-calon-bintang-di-bulan-juli/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Dodi Mawardi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 22 Jul 2021 06:24:14 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Sumber Daya Manusia]]></category>
		<category><![CDATA[alumni sma tn]]></category>
		<category><![CDATA[calon bintang]]></category>
		<category><![CDATA[calon jenderal]]></category>
		<category><![CDATA[Frederick Situmorang]]></category>
		<category><![CDATA[m nurdin]]></category>
		<category><![CDATA[sma taruna nusantara]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tnsatu.org/?p=5544</guid>

					<description><![CDATA[Bersamaan dengan berita wafatnya Ichsan Abubakar, keluarga besar TNSatu juga mendapatkan kabar gembira. Empat orang saudara kami akan segera meraih]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p></p>



<p>Bersamaan dengan berita wafatnya Ichsan Abubakar, keluarga besar TNSatu juga mendapatkan kabar gembira. Empat orang saudara kami akan segera meraih pangkat bintang di pundaknya. Semoga segera nemplok di pundak, tahun ini juga ya.</p>



<p>Keempatnya adalah:</p>



<ul><li>Simson Z. Ringu, Direktur Intelijen Densus 88. Sebenarnya sudah sejak tahun lalu menjabat posisi tersebut. Posisi bintang satu di kepolisian. Semoga bintangnya segera jatuh…</li><li>Barito Mulyo Ratmono, Wakil Ketua STIN (Sekolah Tinggi Intelijen Negara). Juga sudah sejak tahun lalu menjabat posisi bintang satu tersebut. Bintangnya tinggal menunggu waktu.</li><li>Muhammad Nurdin, Pangkosekhanudnas III. Ini berita baru. Jabatan untuk bintang satu di TNI Angkatan Udara. &nbsp;</li><li>Frederick Situmorang, Direktur C BAIS TNI (Badan Intelijen Strategis). Sama dengan informasi M. Nurdin, yang baru diketuk palunya Juli ini. &nbsp;</li></ul>



<p>Selamat ya saudara-saudaraku. Para pendiri SMA Taruna Nusantara pasti bangga dengan pencapaian kalian. Pun demikian para pengelola, pamong, dan seluruh keluarga besar SMA TN, termasuk saudara seangkatan, serta para adik kelas. Terima kasih sudah memberikan teladan dengan karya terbaik. Tidak perlu banyak bicara, namun terus berkarya.</p>



<p>Kami doakan kalian dapat menjalankan tugas mulia tersebut dengan sebaik-baiknya dengan tetap berpegang pada Tri Prasetya Siswa dan Janji Alumni. </p>



<p>Oh ya, semoga yang lain segera menyusul mendapatkan bintang. </p>



<p></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tnsatu.org/2021/07/22/empat-calon-bintang-di-bulan-juli/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Selamat Jalan Ichsan Abubakar</title>
		<link>https://tnsatu.org/2021/07/22/satu-lagi-saudara-kami-menghadap-ilahi/</link>
					<comments>https://tnsatu.org/2021/07/22/satu-lagi-saudara-kami-menghadap-ilahi/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Dodi Mawardi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 22 Jul 2021 05:50:15 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Sumber Daya Manusia]]></category>
		<category><![CDATA[alumni sma tn]]></category>
		<category><![CDATA[Ichsan Abubakar]]></category>
		<category><![CDATA[sma taruna nusantara]]></category>
		<category><![CDATA[tnsatu]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tnsatu.org/?p=5538</guid>

					<description><![CDATA[Sampai 20 Juli 2021, sudah 14 orang kawan kami seangkatan menghadap sang ilahi. Selasa kemarin, menjelang pergantian tanggal, Ichsan Abubakar,]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Sampai 20 Juli 2021, sudah 14 orang kawan kami seangkatan menghadap sang ilahi. Selasa kemarin, menjelang pergantian tanggal, Ichsan Abubakar, siswa kiriman Panda (Panitia Daerah) Jawa Barat, meninggalkan kami karena sakit. Saudaraku, tuntas sudah tugasmu di dunia. Semoga engkau mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah swt. Semoga sakitmu menjadi jalan terhapusnya dosa-dosa.</p>



<p>Sebagian besar dari kami memang lama tidak berinteraksi denganmu, kawan. Tidak sedikit yang memberikan istilah si anak hilang kepadamu. Namun, kami tetap selalu mengingatmu kawan. Kami ingat kebaikan-kebaikanmu. Kami ingat canda tawamu dulu. Kami selalu ingat meski sudah sekian lama berlalu. Kami akan tetap menyimpan memori itu dalam kepala meski sebagian dari kami mungkin terakhir berjumpa denganmu tahun 1993 lalu, ketika kita semua lulus dari Lembah Tidar.</p>



<p>Tidak banyak yang tahu kiprahmu setelah lepas dari SMA. Namun, percayalah saudaraku, doa kami selalu saling mengiringi. Darah kita memang beda asal, namun pikiran, hati, dan jiwa kita sudah menyatu. Sampai kapan pun engkau adalah saudaraku, saudara kami. Saudara seperjuangan selama tiga tahun bersimbah peluh di kampus SMA Taruna Nusantara. Sama-sama senang dan sama-sama sedih. Kita sudah alami semuanya bersama.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="576" src="https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2021/07/Tahlil-Ikhsan-Abubakar-1024x576.jpg" alt="" class="wp-image-5540" srcset="https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2021/07/Tahlil-Ikhsan-Abubakar-1024x576.jpg 1024w, https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2021/07/Tahlil-Ikhsan-Abubakar-300x169.jpg 300w, https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2021/07/Tahlil-Ikhsan-Abubakar-768x432.jpg 768w, https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2021/07/Tahlil-Ikhsan-Abubakar.jpg 1280w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p>Saudaraku Ichsan kepergianmu kembali membuat mata kami basah. Sebanyak apa pun tetes-tetesnya tentu tak akan cukup untuk mengiringi kepergianmu. Hanya doa kami untukmu, Semoga Allah swt., mengampuni segala dosa-dosamu dan menerima seluruh amal ibadahmu…</p>



<p>Innalillahi wa innailaihi rojiun.</p>



<p>Seluruh makhluk akan kembali ke pangkuan Sang Pencipta.</p>



<p>Kami yang masih hidup, tinggal menunggu giliran saja…</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tnsatu.org/2021/07/22/satu-lagi-saudara-kami-menghadap-ilahi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Profil Kombes Hengki Haryadi, Kapolres Jakpus Pengganti Kombes Heru Novianto</title>
		<link>https://tnsatu.org/2020/11/16/profil-kombes-hengki-haryadi-kapolres-jakpus-pengganti-kombes-heru-novianto/</link>
					<comments>https://tnsatu.org/2020/11/16/profil-kombes-hengki-haryadi-kapolres-jakpus-pengganti-kombes-heru-novianto/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Administrator TNSatu.org]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 16 Nov 2020 12:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Hukum dan Keamanan]]></category>
		<category><![CDATA[Sumber Daya Manusia]]></category>
		<category><![CDATA[Hengki Haryadi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tnsatu.org/?p=5527</guid>

					<description><![CDATA[Jakarta &#8211; Kapolri Jenderal Idham Azis mencopot sejumlah perwira tinggi hingga perwira menengah karena dinilai tidak menegakkan aturan terkait pelanggaran protokol kesehatan COVID-19]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="700" height="395" src="https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2020/11/kombes-hengki-haryadi-gantikan-kombes-heru-novianto-sebagai-kapolres-jakarta-pusat_169.jpeg" alt="" class="wp-image-5528" srcset="https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2020/11/kombes-hengki-haryadi-gantikan-kombes-heru-novianto-sebagai-kapolres-jakarta-pusat_169.jpeg 700w, https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2020/11/kombes-hengki-haryadi-gantikan-kombes-heru-novianto-sebagai-kapolres-jakarta-pusat_169-300x169.jpeg 300w" sizes="(max-width: 700px) 100vw, 700px" /><figcaption>Potret Kombes Hengki Haryadi yang diangkat sebagai Kapolres Jakpus</figcaption></figure>



<p><strong>Jakarta</strong> &#8211; <a href="https://www.detik.com/search/searchall?query=kombes+hengki+haryadi&amp;siteid=2">Kapolri Jenderal Idham Azis</a> mencopot sejumlah perwira tinggi hingga perwira menengah karena dinilai tidak menegakkan aturan terkait pelanggaran protokol kesehatan COVID-19 dalam <a href="https://www.detik.com/search/searchall?query=kombes+hengki+haryadi&amp;siteid=2">kegiatan Habib Rizieq Shihab.</a> Salah satunya Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombes Heru Novianto yang digantikan oleh <a href="https://www.detik.com/search/searchall?query=kombes+hengki+haryadi&amp;siteid=2">Kombes Hengki Haryadi.</a></p>



<p><a href="https://www.detik.com/search/searchall?query=kombes+hengki+haryadi&amp;siteid=2">Sosok Kombes Hengki Haryadi&nbsp;</a>bukan orang baru di Polda Metro Jaya. Sepak terjangnya dalam mengungkap kejahatan di Ibu Kota tidak perlu diragukan lagi.</p>



<p>Hengki Haryadi merupakan lulusan<a href="https://www.detik.com/search/searchall?query=kombes+hengki+haryadi&amp;siteid=2">&nbsp;Akpol tahun 1996.&nbsp;</a>Pada pertengahan Oktober 2020, Hengki Haryadi baru dilantik sebagai&nbsp;<a href="https://www.detik.com/search/searchall?query=kombes+hengki+haryadi&amp;siteid=2">lulusan terbaik Sespimti Dikreg Tahun Ajaran 2020.</a></p>



<p>Pria kelahiran Palembang ini pernah menjabat Kapolres Metro Jakarta Barat pada Oktober 2017-Januari 2020. Selama di Polres Jakarta Barat, Hengki Haryadi pernah mengungkap sejumlah&nbsp;<a href="https://www.detik.com/search/searchall?query=kombes+hengki+haryadi&amp;siteid=2">kasus menonjol hingga premanisme&nbsp;</a>yang meresahkan di Ibu Kota.</p>



<p><a href="https://www.detik.com/search/searchall?query=kombes+hengki+haryadi&amp;siteid=2">Sosok Hercules dibuatnya bertekuk lutut </a>karena aksi premanisme yang meresahkan warga. Hengki Haryadi tak hanya dikenal sebagai pemimpin yang tegas, tapi juga humanis dan berwibawa.</p>



<p>Hengki Haryadi kecil besar di Kota Metro, Lampung. Ayahnya merupakan prajurit TNI.</p>



<p>Prestasi akademik Hengki Haryadi sudah ditunjukkan sejak sekolah dasar hingga ia masuk SMA unggulan, SMA Taruna Nusantara, Magelang, Jawa Tengah. Selama menempuh pendidikan SMA, Hengki Haryadi termasuk berprestasi. Ia bahkan dipercaya menjadi anggota Paskibraka di Istana Kepresidenan pada 1991.</p>



<p>Tiga tahun mengenyam pendidikan di Akademi Kepolisian,&nbsp;<a href="https://www.detik.com/search/searchall?query=kombes+hengki+haryadi&amp;siteid=2">Kombes Hengki Haryadi lulus pada tahun 1996</a>. Mengawali karir di kepolisian, Hengki Haryadi bertugas di Polres Dili, yang saat itu masih menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.</p>



<p>Hengki Haryadi kemudian dipindahkan ke Jawa Barat. Ia dipercaya sebagai&nbsp;<a href="https://www.detik.com/search/searchall?query=kombes+hengki+haryadi&amp;siteid=2">Wakapolsek Lengkong, Polresta Bandung Tengah.</a></p>



<p>Pada 2004, Hengki Haryadi mendapat kenaikan pangkat Kompol di Polda Lampung. Setelah 6 tahun bertugas di Lampung, ia kemudian dipindahkan ke Polda Metro Jaya.</p>



<p>Di Polda Metro Jaya, Hengki Haryadi pernah dipercaya sebagai Kapolsek Gambir, Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Pusat, Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Barat, Kapolres Pelabuhan Tanjung Priok, dan Wakil Direktur Reskrimsus Polda Metro Jaya.</p>



<p>Saat menjadi Kasat Reskrim Jakarta Barat,&nbsp;<a href="https://www.detik.com/search/searchall?query=kombes+hengki+haryadi&amp;siteid=2">Hengki Haryadi berpartner dengan Irjen Fadhil Imran,&nbsp;</a>yang saat itu sebagai Kapolres Metro Jakarta Barat dengan pangkat Komisaris Besar. Di tangan Fadil Imran dan Hengki Haryadi ini, sejumlah kasus kejahatan menonjol berhasil diungkap, salah satunya menangkap Hercules.</p>



<p>Karir Hengki Haryadi semakin melejit pada 2017. Pada 30 Oktober 2017, Kombes Hengki Haryadi dipercaya mengemban tugas sebagai Kapolres Metro Jakarta Barat.</p>



<p>Selama di Polres Jakarta Barat, <a href="https://www.detik.com/search/searchall?query=kombes+hengki+haryadi&amp;siteid=2">Hengki Haryadi mengukir segudang prestasi. </a>Pada November 2018, Polres Jakarta Barat di bawah pimpinan Kombes Hengki Haryadi menangkap preman Hercules terkait perebutan lahan di Kalideres, Jakarta Barat.</p>



<p>Hengki Haryadi juga mengungkap sejumlah kasus narkoba. Kampung Ambon yang menjadi sarang narkoba diobrak-abrik oleh pria kelahiran 1979 ini.</p>



<p>Di tangan dinginnya, peredaran narkoba jaringan lokal hingga internasional diringkus dirinya. Salah satunya penyelundupan 1,3 ton ganja jaringan antarkota, penyelundupan 120 kg sabu jaringan internasional, serta 28 kg sabu jaringan internasional Amerika.</p>



<p>Kerja kerasnya dan jajarannya kala itu diganjar<a href="https://www.detik.com/search/searchall?query=kombes+hengki+haryadi&amp;siteid=2">&nbsp;penghargaan oleh DEA</a><em>&nbsp;(</em>Drug Enforcement Agency<em>)</em>. Hengki Haryadi mendapat penghargaan khusus dari DEA atas&nbsp;<em>leadership-</em>nya dalam kerja sama pengungkapan narkoba.</p>



<p>Tidak hanya itu, Hengki Haryadi juga mengungkap kasus<a href="https://www.detik.com/search/searchall?query=kombes+hengki+haryadi&amp;siteid=2"> jambret &#8216;tenda oranye&#8217; </a>yang saat itu meresahkan masyarakat. Ia menangkap puluhan jambret saat itu dan segudang kasus lainnya yang ia ungkap.</p>



<p></p>



<p><em>Sumber informasi :</em></p>



<p><a href="https://news.detik.com/berita/d-5257448/profil-kombes-hengki-haryadi-kapolres-jakpus-pengganti-kombes-heru-novianto/1">https://news.detik.com/berita/d-5257448/profil-kombes-hengki-haryadi-kapolres-jakpus-pengganti-kombes-heru-novianto/1</a></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tnsatu.org/2020/11/16/profil-kombes-hengki-haryadi-kapolres-jakpus-pengganti-kombes-heru-novianto/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Satu Lagi Kawan Kami Menghadap Sang Ilahi</title>
		<link>https://tnsatu.org/2020/11/02/satu-lagi-kawan-kami-menghadap-sang-ilahi/</link>
					<comments>https://tnsatu.org/2020/11/02/satu-lagi-kawan-kami-menghadap-sang-ilahi/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Administrator TNSatu.org]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 02 Nov 2020 14:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Sumber Daya Manusia]]></category>
		<category><![CDATA[Indra Dwiyatmoko]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tnsatu.org/?p=5512</guid>

					<description><![CDATA[Hari ini (31/10/2020) sungguh suatu kesedihan mendalam bagi kami, keluarga besar TNSatu. Salah satu saudara kami tercinta Indra Dwiyatmoko sudah]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="960" height="575" src="https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2020/11/Indra-2.jpg" alt="" class="wp-image-5513" srcset="https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2020/11/Indra-2.jpg 960w, https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2020/11/Indra-2-300x180.jpg 300w, https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2020/11/Indra-2-768x460.jpg 768w" sizes="(max-width: 960px) 100vw, 960px" /></figure>



<figure class="wp-block-image size-large is-resized"><img decoding="async" src="https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2020/11/Indra-3.jpg" alt="" class="wp-image-5516" width="334" height="436" srcset="https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2020/11/Indra-3.jpg 734w, https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2020/11/Indra-3-229x300.jpg 229w" sizes="(max-width: 334px) 100vw, 334px" /><figcaption>Beberapa sahabat/saudara  (TN 1) di rumah almarhum Indra Dwiyatmoko</figcaption></figure>



<p>Hari ini (31/10/2020) sungguh suatu kesedihan mendalam bagi kami, keluarga besar TNSatu. Salah satu saudara kami tercinta Indra Dwiyatmoko sudah mengakhiri tugas mulianya di dunia ini untuk menghadap Sang Maha Kuasa.</p>



<p>Beliau orang baik. Orang yang sangat baik. Selama hidupnya selalu dipenuhi oleh kebaikan. Ucapannya selalu baik. Sikap dan tindak tanduknya pun demikian. Setiap kali berkomunikasi dengannya aura kebaikan dan positif selalu terpancar.</p>



<p>Beliau juga orang yang sabar. Sangat sabar. Bertahun-tahun ditugaskan di Papua, dan hanya sesekali pulang ke Jakarta. Nyaris tak ada keluh kesah. Beliau menikmati tugasnya sebagai abdi negara.</p>



<p>Saya bersaksi, beliau benar2 orang yang baik dan sabar. Semoga orang baik dan sabar selalu mendapatkan karunia dari Allah SWT., dan mendapatkan tempat terbaik di alam akhirat.</p>



<p>Selamat jalan sahabatku. Saudaraku. Kami semua merasa kehilangan atas kepergianmu. Semoga kami yang masih hidup dapat terus dalam perjuangan dan memberikan karya terbaik buat bangsa.</p>



<p>&#8211; Romi SW. &#8211;</p>



<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;oo&#8212;&#8212;&#8212;-</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="576" src="https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2020/11/Indra-2A-1024x576.jpeg" alt="" class="wp-image-5514" srcset="https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2020/11/Indra-2A-1024x576.jpeg 1024w, https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2020/11/Indra-2A-300x169.jpeg 300w, https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2020/11/Indra-2A-768x432.jpeg 768w, https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2020/11/Indra-2A.jpeg 1280w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Di rumah Almarhum Indra Dwiyatmoko</figcaption></figure>



<figure class="wp-block-image size-large is-resized"><img decoding="async" src="https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2020/11/Indra-2C-576x1024.jpeg" alt="" class="wp-image-5515" width="320" height="569" srcset="https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2020/11/Indra-2C-576x1024.jpeg 576w, https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2020/11/Indra-2C-169x300.jpeg 169w, https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2020/11/Indra-2C.jpeg 720w" sizes="(max-width: 320px) 100vw, 320px" /><figcaption>Persiapan keberangkatan Jenazah ke Mesjid terdekat untuk di shalatkan</figcaption></figure>



<p>Bertemu di SMA TN tahun 1990 dan disatukan selama 3 tahun&nbsp; dalam perjuangan hidup yang&nbsp; penuh suka dan duka,&nbsp; ternyata adalah kisah dan pengalaman terbaik kami. Peristiwa yang kami alami itu,&nbsp; kelak&nbsp; menyadarkan dan mengikat kami akan persaudaraan. Terutama disaat bagian dari kami ada yang kesusahan atau berduka.</p>



<p>Sebagai mahluk Allah SWT, kita semua pasti akan kembali kepadanya. Hanya masalah waktu dan giliran. Telah 13 orang dari kami, sudah mendahului. Dan Hari Sabtu tanggal 31 Oktober 2020 kemarin adalah waktu dan giliram rekan kami alm. Indra Dwiyatmoko.</p>



<p>Ikatan persaudaraan dan rasa memiliki yang secara alami tertanam selama pendidikan tersentak seketika. Teman-teman muncul dan memainkan peran masing-masing mendampingi keluarga yang sedang bersedih.</p>



<p>Tradisi pengumpulan donasi pun menunjukkan kuatnya ikatan itu. Ratusan TNSatu ikut berpartisipasi dan telah terkumpul dana dalam 9 digit dan masih terus bertambah. Bukan masalah besaran jumlahnya,&nbsp; tetapi berapa banyak saudaranya&nbsp; yang perhatian akan sangat menguatkan keluarga almarhum&nbsp; dan TN1 brotherhood.</p>



<p>Kebahagian kami sangat terasa ketika istri, anak dan keluarga almarhum dengan berlinang air mata mengucapkan terima kasih atas perhatian kawan-kawan suami/ayahya.</p>



<p>Di situ saya bangga akan TNSatu Brotherhood.</p>



<p>Terima kasih my Brother</p>



<p>Selamat jalan kawanku.</p>



<p></p>



<p></p>



<p>&#8211; Ahmad Sulaeman-</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="727" height="960" src="https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2020/11/Indra-4.jpg" alt="" class="wp-image-5517" srcset="https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2020/11/Indra-4.jpg 727w, https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2020/11/Indra-4-227x300.jpg 227w" sizes="(max-width: 727px) 100vw, 727px" /><figcaption>Beberapa sahabat/saudara TN 1 ikut serta membantu memikul jenazah ke tempat makam Menteng Pulo</figcaption></figure>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="470" src="https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2020/11/Indra-6-1024x470.jpg" alt="" class="wp-image-5518" srcset="https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2020/11/Indra-6-1024x470.jpg 1024w, https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2020/11/Indra-6-300x138.jpg 300w, https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2020/11/Indra-6-768x353.jpg 768w, https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2020/11/Indra-6.jpg 1248w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Beberapa saudara TN 1 yang ikut serta di pemakaman</figcaption></figure>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="960" height="565" src="https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2020/11/Indra-7.jpg" alt="" class="wp-image-5519" srcset="https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2020/11/Indra-7.jpg 960w, https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2020/11/Indra-7-300x177.jpg 300w, https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2020/11/Indra-7-768x452.jpg 768w" sizes="(max-width: 960px) 100vw, 960px" /><figcaption>Perwakilan TN 1 memberikan secara simbolik santuan duka kepada anak/keluarga almarhum Indra Dwiyatmoko</figcaption></figure>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="768" src="https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2020/11/Indra-10-1024x768.jpg" alt="" class="wp-image-5520" srcset="https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2020/11/Indra-10-1024x768.jpg 1024w, https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2020/11/Indra-10-300x225.jpg 300w, https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2020/11/Indra-10-768x576.jpg 768w, https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2020/11/Indra-10.jpg 1280w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Perwakilan Ikastara memberikan santunan duka kepada anak/keluarga almarhum Indra Dwiyatmoko</figcaption></figure>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="502" src="https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2020/11/Indra-8-1024x502.jpg" alt="" class="wp-image-5521" srcset="https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2020/11/Indra-8-1024x502.jpg 1024w, https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2020/11/Indra-8-300x147.jpg 300w, https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2020/11/Indra-8-768x377.jpg 768w, https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2020/11/Indra-8.jpg 1305w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption>Perwakilan TN1 bersama kedua anak almarhum Indra Dwiyatmoko</figcaption></figure>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="678" height="960" src="https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2020/11/Indra-9.jpg" alt="" class="wp-image-5522" srcset="https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2020/11/Indra-9.jpg 678w, https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2020/11/Indra-9-212x300.jpg 212w" sizes="(max-width: 678px) 100vw, 678px" /><figcaption> Daftar TN 1 yang telah mendahului</figcaption></figure>



<p></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tnsatu.org/2020/11/02/satu-lagi-kawan-kami-menghadap-sang-ilahi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>7 Perwira TNI-Polri Lulusan Terbaik Sespimti 2020, Ini Daftarnya</title>
		<link>https://tnsatu.org/2020/10/22/7-perwira-tni-polri-lulusan-terbaik-sespimti-2020-ini-daftarnya/</link>
					<comments>https://tnsatu.org/2020/10/22/7-perwira-tni-polri-lulusan-terbaik-sespimti-2020-ini-daftarnya/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Administrator TNSatu.org]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 22 Oct 2020 07:00:10 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Sumber Daya Manusia]]></category>
		<category><![CDATA[Daru Cahyo Sumirat]]></category>
		<category><![CDATA[Frederick Situmorang]]></category>
		<category><![CDATA[Hengki Haryadi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tnsatu.org/?p=5506</guid>

					<description><![CDATA[Jakarta&#160;&#8211;&#160;Wakapolri Komjen Gatot Eddy Pramono melantik para peserta&#160;Sekolah Staf dan Pimpinan Tinggi (Sespimti) Polri ke-29&#160;dan Sespimmen ke-60 TA 2020. Ada]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="700" height="393" src="https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2020/10/7-perwira-tni-polri-lulusan-terbaik-sespimti_169.jpeg" alt="" class="wp-image-5507" srcset="https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2020/10/7-perwira-tni-polri-lulusan-terbaik-sespimti_169.jpeg 700w, https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2020/10/7-perwira-tni-polri-lulusan-terbaik-sespimti_169-300x168.jpeg 300w" sizes="(max-width: 700px) 100vw, 700px" /><figcaption>7 Perwira TNI-Polri lulusan terbaik Sespimti (Dok.Istimewa)</figcaption></figure>



<p><strong>Jakarta</strong>&nbsp;&#8211;&nbsp;Wakapolri Komjen Gatot Eddy Pramono melantik para peserta&nbsp;<a href="https://www.detik.com/search/searchall?query=sespimti&amp;siteid=2">Sekolah Staf dan Pimpinan Tinggi (Sespimti) Polri ke-29&nbsp;</a>dan Sespimmen ke-60 TA 2020. Ada 14 peserta Sespimti dan Sespimen lulusan terbaik yang mendapatkan penghargaan,<a href="https://www.detik.com/search/searchall?query=sespimti&amp;siteid=2">&nbsp;salah satunya Kombes Hengki Haryadi.</a></p>



<p>Upacara penyerahan penghargaan kepada tujuh peserta didik Sespimti Polri Dikreg ke-29 dan juga tujuh peseta didik Sespimmen Polri Dikreg ke-60 TA 2020 di gedung Utaryo Suryawinata Sespim Lemdiklat Polri, Kamis (22/10/2020).</p>



<p>Kapolri Jenderal Idham Azis, yang diwakili Wakapolri Komjen Gatot Eddy Pramono, memberikan sambutannya secara<em>&nbsp;virtual Zoom</em>. Dalam kesempatan itu, Komjen Gatot Eddy menyampaikan pesan kepada para lulusan Sespimti dan Sespimmen&nbsp;<a href="https://www.detik.com/search/searchall?query=sespimti&amp;siteid=2">untuk menjadi agen perubahan.</a></p>



<p>&#8220;Saya berharap rekan-rekan menjadi&nbsp;<em>agent of change</em>, bukan agen yang kasak-kusuk. Saya mengajak rekan-rekan wajib menjaga moral institusi. Anggota jadikan teman dan sahabat. Jangan pasang jarak. Tidak ada komandan yang hebat, tapi hebat dalam menata anggota. Jadilah pemimpin yang memiliki komitmen dan bangun motivasi anggota. Satu keteladanan lebih baik dari 1.000 nasihat,&#8221; Komjen Gatot Eddy.</p>



<p>Penutupan pendidikan Sespimti dan Sespimmen ini dilanjutkan dengan upacara penyerahan penghargaan kepada 14 lulusan terbaik. Penghargaan diberikan oleh Kepala Sekolah Staf dan Pimpinan Menengah, Lembaga Pendidikan dan Pelatihan, Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kasespim Lemdiklat Polri) Irjen Drs Rokhmat Susanto.</p>



<p>&#8220;Kami ucapkan selamat kepada seluruh peserta didik yang lulus. Dan juga selamat kepada penerima penghargaan terbaik. Terpenting ke depannya mampu menjadikan Polri semakin baik dan profesional. Semakin baik memberi pelayanan kepada masyarakat luas,&#8221; ujar Irjen Rokhmat Susanto.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="620" height="349" src="https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2020/10/7-perwira-tni-polri-lulusan-terbaik-sespimti-1_169.jpeg" alt="" class="wp-image-5508" srcset="https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2020/10/7-perwira-tni-polri-lulusan-terbaik-sespimti-1_169.jpeg 620w, https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2020/10/7-perwira-tni-polri-lulusan-terbaik-sespimti-1_169-300x169.jpeg 300w" sizes="(max-width: 620px) 100vw, 620px" /><figcaption><em>Kombes Hengki Haryadi (tengah) lulusan terbaik Sespimti Polri. (Dok.Istimewa)</em></figcaption></figure>



<p>Penghargaan diberikan kepada Terbaik Umum peserta Sespimti Polri dan peserta TNI, peserta didik Sespimmen Polri Terbaik Nastrap dan Naskap. Termasuk juga penghargaan kepada lulusan Terbaik Akademik, Terbaik Kepribadian, Terbaik Kesempatan Jasmani, Terbaik Tamu, Terbaik Nastrap Tamu, dan Terbaik Kepribadian Tamu.</p>



<p>Untuk peserta didik Sespimti Polri Dikreg ke-29 Penghargaan Terbaik Umum diberikan kepada Kombes Hengki Haryadi. Dan untuk peserta didik Sespimmen Polri Dikreg ke-60 Penghargaan Terbaik Umum diberikan kepada Kompol Rizal Maulana.</p>



<p>Untuk diketahui,&nbsp;<a href="https://www.detik.com/search/searchall?query=sespimti&amp;siteid=2">Kombes Hengki Haryadi&nbsp;</a>adalah mantan Kapolres Metro Jakarta Barat. Selama menjabat Kapolres Metro Jakarta Barat, Hengki banyak menorehkan prestasi.</p>



<p>Salah satunya memberantas premanisme kelompok Hercules. Di bawah kepemimpinan Hengki Haryadi, Polres Jakbar pernah mengungkap narkoba senilai Rp 390 miliar pada 2019.</p>



<p>Berikut daftar penerima penghargaan Peserta Didik Sespimti Polri Dikreg ke-29:<br><br>1. Terbaik Umum ( TNI-Polri, siswa tamu ): Kombes Pol Hengki Haryadi<br>2. Terbaik Nastrap : Kombes Pol Arif Rachman<br>3. Terbaik Akademik : Kombes Pol Daddy Hartadi<br>4. Terbaik Kepribadian : Kombes Pol Rizal Irawan<br>5. Terbaik Tamu : Kolonel (P) Daru Cahyo Sumirat<br>6. Terbaik Nastrap Tamu : Kolonel PNB Fredik Situmorang<br>7. Terbaik Kepribadian Tamu : Kolonel Mar Efhardian</p>



<p>Penerima Penghargaan Peserta Didik Sespimmen Polri Dikreg ke-60 sebanyak 7 orang sebagai berikut :</p>



<p>1. Terbaik Umum : Kompol Mirzal Maulana<br>2. Terbaik Naskap : Kompol Muhammad Taat Resdianto<br>3. Terbaik Akademik : Kompol Achmad Akbar<br>4. Terbaik Kepribadian : Kompol France Yohanes Siregar<br>5. Terbaik Kesemaptaan Jasmani : Kompol I Nengah Sadiarta<br>6. Terbaik Umum Tamu : Mayor INF Pahala Alfredo Siahaan<br>7. Terbaik Kepribadian Tamu : Mayor Sus Tito Tofani</p>



<p></p>



<p><strong>(mea/bar)</strong></p>



<p><em>Sumber :</em></p>



<p><a href="https://news.detik.com/berita/d-5224029/7-perwira-tni-polri-lulusan-terbaik-sespimti-2020-ini-daftarnya">https://news.detik.com/berita/d-5224029/7-perwira-tni-polri-lulusan-terbaik-sespimti-2020-ini-daftarnya</a></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tnsatu.org/2020/10/22/7-perwira-tni-polri-lulusan-terbaik-sespimti-2020-ini-daftarnya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>MEMBANGUN DI ATAS KOMPETENSI MORAL</title>
		<link>https://tnsatu.org/2020/08/16/membangun-di-atas-kompetensi-moral/</link>
					<comments>https://tnsatu.org/2020/08/16/membangun-di-atas-kompetensi-moral/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Administrator TNSatu.org]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 16 Aug 2020 05:58:02 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Sumber Daya Manusia]]></category>
		<category><![CDATA[Jon Kennedy Ginting]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tnsatu.org/?p=5501</guid>

					<description><![CDATA[Proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 diwarnai oleh beragam kejadian historis yang tercatat sebagai bagian perjalanan Indonesia untuk]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="650" height="452" src="https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2020/08/Membangun-di-atas-kompetensi-moral.png" alt="" class="wp-image-5502" srcset="https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2020/08/Membangun-di-atas-kompetensi-moral.png 650w, https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2020/08/Membangun-di-atas-kompetensi-moral-300x209.png 300w, https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2020/08/Membangun-di-atas-kompetensi-moral-392x272.png 392w, https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2020/08/Membangun-di-atas-kompetensi-moral-130x90.png 130w" sizes="(max-width: 650px) 100vw, 650px" /><figcaption><em>Foto dari islamindonesia.id</em></figcaption></figure>



<p>Proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 diwarnai oleh beragam kejadian historis yang tercatat sebagai bagian perjalanan Indonesia untuk berdiri di atas kakinya sendiri.&nbsp; Sebelum kedudukan Jepang di Asia digoyahkan oleh dua bom atom Sekutu di Hiroshima dan Nagasaki, rakyat Indonesia sudah melakukan perlawanan di berbagai daerah.&nbsp; Setelah pemboman Sekutu atas dua kota itu, berbagai kecamuk pergerakan di kalangan para tokoh nasional juga tidak kalah seru. Desakan beberapa kelompok kepada Ir. Soekarno untuk segera memproklamasikan kemerdekaan, pembentukan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), dipanggilnya beberapa tokoh nasional ke Da Lat, Vietnam oleh pimpinan militer Jepang, hingga “penculikan” Ir. Soekarno oleh kelompok pemuda di Rengasdengklok adalah beberapa catatan sejarah yang bisa dikenang tentang bagaimana bangsa ini mula-mula berdiri.</p>



<p>Yang menarik adalah apa yang menjadi “semangat” atau “nuansa kebatinan” dari semua kecamuk itu.&nbsp; Satu-satunya hal yang melatarbelakangi semua momen itu adalah keinginan sebagai bangsa untuk merdeka, menjadi diri sendiri, berpijak dan berjalan di atas kaki sendiri, dan tidak bergantung pada siapapun.&nbsp; Apakah saat itu kita punya kecakapan atau kemampuan finansial maupun teknis untuk menjadi sebuah negara merdeka?&nbsp; Punya infrastruktur mapan untuk menjalankan roda pemerintahan?&nbsp; Punya sumber daya untuk membiayai pembangunan?&nbsp; Punya angkatan perang yang cukup kuat untuk melindungi negara?&nbsp; Jawaban atas semua pertanyaan itu: TIDAK.</p>



<p>Lantas kecakapan atau kompetensi apa yang membuat para pendiri negara ini berani meniatkan diri untuk merdeka?&nbsp; KOMPETENSI MORAL.&nbsp; Kecakapan moral itulah yang membuat para tokoh bangsa, dipimpin oleh Ir. Soekarno, berani mengambil keputusan untuk memproklamasikan Indonesia sebagai negara merdeka.&nbsp; Mereka paham bahwa risiko dari keputusan itu tidak kecil: mereka (dan keluarganya) bisa ditangkap atau bahkan dibunuh oleh Jepang, karena belum ada sikap politik yang tegas dari Pemerintah Jepang terkait nasib Indonesia.&nbsp; Mereka juga berpotensi dihukum oleh Sekutu, yang secara yuridis berhak atas semua wilayah pendudukan Jepang pasca menyerahnya Jepang.&nbsp; Namun, kompetensi moral merekalah yang membuat kita ada saat ini, karena para pendiri bangsa ini bersedia menjadikan dirinya “tumbal” bagi masa depan nasib jutaan orang yang kelak akan mewariskan Indonesia ini pada anak cucunya.</p>



<p><strong>JANGAN PERNAH LUPA PADA SEJARAH</strong></p>



<p>Itu 75 tahun yang lalu.&nbsp; Untuk ukuran manusia, 75 tahun adalah usia yang tergolong uzur, ketika manusia sudah melewati masa-masa termatang dalam siklus hidupnya, dan akan kembali menjadi seperti “anak kecil”.&nbsp; Namun untuk sebuah bangsa, 75 tahun adalah usia yang relatif “matang”, di mana sebuah bangsa semestinya telah menemukan jati diri, kedewasaan dalam berbangsa dan bernegara, serta mencapai kemapanan dalam tata kelola bermasyarakat.&nbsp; Adalah sebuah perenungan yang menarik ketika kita mempertanyakan seperti apa kita sebagai bangsa di usia 75 tahun ini.</p>



<p>Kembali pada sejarah, setelah merdeka bangsa ini juga tidak melenggang mudah dalam perjalanannya.&nbsp; Berbagai gejolak baik fisik bersenjata maupun politik masih terjadi di berbagai wilayah: perang wilayah melawan kembalinya Belanda yang membonceng Sekutu, pergolakan politik nasional di era 1950-an, hingga tergulingnya Soekarno pasca pemberontakan G-30S/PKI. &nbsp;Memasuki masa Orde Baru, bangsa ini juga masih bergulat dengan dirinya sendiri yang puncaknya adalah gerakan reformasi 1998, yang berbuah dengan pemerintahan-pemerintahan baru pasca Soeharto, hingga saat ini.</p>



<p>Berbagai pencapaian telah diraih.&nbsp; Pembangunan infrastruktur berjalan masif, Jakarta menjadi salah satu metropolitan sibuk di dunia, dan berbagai bidang bergerak untuk mewujudkan Indonesia yang “modern”.&nbsp; Sebagai perbandingan, Malaysia menyatakan kemerdekaannya tahun 1957, Singapura tahun 1965, Vietnam hanya berselisih sekitar dua minggu setelah kita, Korea Selatan hanya berselisih dua hari sebelum kita (yang berarti usia Vietnam dan Korea Selatan sama-sama 75 tahun). &nbsp;Ada pertanyaan kritis yang muncul tentang seberapa “modern” kita dibandingkan negara-negara yang saya sebutkan tadi.&nbsp; Tapi bagi saya, pertanyaan yang lebih penting adalah “seberapa merdekakah kita sekarang?”</p>



<p><em>History is the foundation of a nation</em>.&nbsp; Sejarah adalah pondasi sebuah bangsa.&nbsp; Ketika sebuah bangsa secara historis dibangun di atas kompetensi moral para pendirinya, maka kompetensi moral itu pulalah kekuatan terbesar untuk membangun bangsa itu.&nbsp; Mengabaikan eksistensi kompetensi moral sama halnya mengabaikan pondasi sebuah bangunan, yang pada akhirnya hanya akan melahirkan sebuah bangunan yang rapuh meskipun terlihat indah, gampang roboh sekalipun terlihat mentereng.&nbsp; Singkatnya, jangan pernah melupakan sejarah bagaimana bangsa ini berdiri, karena itu adalah pintu bagi kehancuran dari semua yang telah diperjuangkan dengan cucuran darah, keringat, dan air mata para pendahulu kita.</p>



<p><strong>KOMPETENSI MORAL ADALAH CIKAL BAKAL INDONESIA</strong></p>



<p>Para pendiri bangsa ini telah menunjukkan pada kita (kalau kita mau belajar sejarah, tentunya) bahwa hal sangat besar yang terlihat tidak mungkin sekalipun dapat kita wujudkan, selama kita kompeten secara moral.&nbsp; Apa yang dimaksud “kompeten secara moral” itu?&nbsp; Kompeten secara moral, atau kompetensi moral, adalah sebuah kondisi kecakapan mentalitas yang berisikan nilai-nilai semangat pejuang, kecintaan kepada tanah air, kesediaan mengorbankan diri sendiri demi kepentingan bersama, mengedepankan kemaslahatan orang banyak di atas kepentingan sendiri, dan tidak pernah berpikir untung rugi dalam memperjuangkan cita-cita bersama.</p>



<p>Nilai-nilai itu yang ada dalam kepribadian figur-figur yang kita kenal dengan nama Ir. Soekarno, Drs. Mohammad Hatta, Achmad Soebardjo, bahkan dalam figur seorang Ibu Fatmawati, yang menjahit sendiri bendera Merah Putih untuk dikibarkan saat pembacaan naskah proklamasi.&nbsp; Kompetensi moral itu pulalah yang memenuhi diri seorang Jenderal Soedirman, yang dalam keadaan sakit tetap berada di tengah-tengah anak buah ketika Belanda mencoba mengganggu kemerdekaan Indonesia yang masih berusia dini. &nbsp;Juga pada diri Sri Sultan Hamengkubuwono IX, yang merelakan Jogjakarta menjadi Ibukota negara saat Jakarta kembali diduduki Belanda, dan dengan dana daerah yang terbatas bersedia membiayai roda pemerintahan Indonesia.&nbsp; Masih banyak lagi tokoh-tokoh besar yang dapat kita sebutkan untuk menggambarkan bahwa dalam diri mereka, tidak ada yang lebih penting daripada kemerdekaan dan kemajuan bangsanya.&nbsp; Diri dan keluarga merekapun berada di prioritas kesekian ketika berbicara tentang apa yang terpenting bagi mereka.</p>



<p>Tujuan pembangunan negara adalah untuk mewujudkan cita-cita nasional seperti yang dinyatakan dalam Alinea ke-4 Pembukaan UUD 1945 (melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial).&nbsp; Dalam implementasinya, pembangunan itu kita jalankan dalam berbagai aspek: ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, dan pertahanan serta keamanan.</p>



<p>Cita-cita nasional hanya dapat diwujudkan di atas kompetensi moral yang kuat.&nbsp; Bangsa ini tidak sekedar butuh menjadi lebih modern, namun yang tidak kalah penting adalah menjadi lebih berkarakter.&nbsp;&nbsp;<em>Benchmark</em>&nbsp;dari karakter bangsa ini sebenarnya sudah diperlihatkan oleh para pendiri bangsa kita di awal-awal kemerdekaan, yang tergambar dalam lima sila Pancasila yang menjadi dasar kita bernegara.&nbsp; Artinya, kita perlu kembali lagi pada sejarah bagaimana bangsa ini terbentuk, untuk dapat memahami bagaimana kita harus melangkah ke depan.&nbsp; Akibat dari sikap abai pada sejarah dan pada karakter kebangsaan dapat kita lihat dari apa yang terjadi dengan Uni Soviet tahun 1991 dan Yugoslavia tahun 2003.</p>



<p><strong>SEBERAPA KOMPETENKAH BANGSA INI SECARA MORAL?</strong></p>



<p>Di tengah kemajuan teknologi informasi yang kita rasakan saat ini, tidak sulit untuk memperoleh gambaran obyektif tentang kecakapan moral bangsa ini di usianya yang sudah 75 tahun. Kita bisa melihat betapa susahnya memberantas korupsi pada saat jumlah peraturan perundang-undangan Indonesia mungkin salah satu yang terbanyak di dunia, dan berbagai lembaga penegakan hukum sudah dibentuk.&nbsp; Tidak sulit juga untuk melihat perilaku tokoh-tokoh publik yang jauh dari kata teladan, yang bahkan dengan bangganya dipertontonkan kepada masyarakat.&nbsp; Tidak sulit pula untuk melihat betapa masih tertatih-tatihnya kita membuat kebijakan publik yang konsisten, sinergi satu sama lain, sinkron antara pusat dan daerah, dan sebagainya.</p>



<p>Kita bangga dengan pencapaian pelajar-pelajar kita di berbagai even internasional, namun tidak sadar bahwa itu adalah buah dari kerja keras mereka sebagai individu, yang ditopang oleh sistem kebijakan internal sekolahnya yang bagus, BUKAN karena sistem pendidikan nasional kita yang sudah maju.&nbsp; Sebelum pandemi Covid-19, berbagai cerita tentang bagaimana anak-anak di desa-desa terpencil harus bertaruh nyawa untuk sekedar sampai ke sekolah, guru yang harus berjuang antara hidup dan mati untuk bisa mengajar, fasilitas sekolah yang buruk, adalah hal yang umum kita semua ketahui (dan hebatnya lagi, beberapa kondisi itu terjadi di Pulau Jawa, yang&nbsp;<em>nota bene</em>&nbsp;satu pulau dengan Ibukota negara).&nbsp; Saat pandemi, terlihat pula betapa belum siapnya kita menjalankan skema pendidikan modern yang berbasis internet, ketika di banyak tempat anak-anak harus berkumpul entah di tepi jurang, di balai desa, atau di pinggir kuburan hanya untuk mendapatkan sinyal dan akses internet yang stabil.&nbsp; Masih banyak lagi cerita miris lainnya, yang daftarnya bisa sangat panjang.</p>



<p>Di saat kita sudah 75 tahun bernegara, kita masih disibukkan oleh hal-hal yang “receh”.&nbsp; Persoalan-persoalan berlatarbelakang suku dan agama, adalah beberapa contoh bagaimana bangsa ini masih belum cukup cerdas dan modern cara berpikir dan sikap moralnya.&nbsp; Tidak mengherankan, karena kelompok-kelompok ini mungkin melihat bagaimana cara berpikir dan sikap moral para “panutan” mereka, atau “wakil rakyat” pilihan mereka.&nbsp; Tidak aneh, karena manusia-manusia “tanpa otak” sekalipun bisa disebut dan dipuja-puja sebagai “tokoh”.</p>



<p>Pencapaian kita memang banyak di 75 tahun ini, tapi ketika berbicara apakah semua pencapaian itu sudah mendekatkan kita pada terwujudnya cita-cita nasional seperti dinyatakan dalam Pembukaan UUD 1945, itu persoalan lain.&nbsp; Menjawab pertanyaan “seberapa merdekakah kita” tadi, saya bisa mengatakan bahwa pada dasarnya kita bahkan belum merdeka dari diri kita sendiri, ketika para figur publik masih menjadi budak dari ego sektoral dan hasrat individu akan kekuasaan serta kepuasan diri sendiri.</p>



<p>Ada hal yang wajib diingat: bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak meninggalkan sejarah, dan sejarah bangsa ini dibangun di atas kompetensi moral.</p>



<p><em>Selamat memaknai 75 tahun perjalanan, negeriku!</em></p>



<p><em>Dirgahayu, tanah airku!</em></p>



<p></p>



<p>Sumber :</p>



<figure class="wp-block-embed-wordpress wp-block-embed is-type-wp-embed is-provider-jon-keneddy-ginting"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<blockquote class="wp-embedded-content" data-secret="3PCygBRP7K"><a href="http://jonkeneddy.com/2020/08/16/membangun-di-atas-kompetensi-moral/">MEMBANGUN DI ATAS KOMPETENSI MORAL</a></blockquote><iframe class="wp-embedded-content" sandbox="allow-scripts" security="restricted" title="&#8220;MEMBANGUN DI ATAS KOMPETENSI MORAL&#8221; &#8212; JON KENEDDY GINTING" src="http://jonkeneddy.com/2020/08/16/membangun-di-atas-kompetensi-moral/embed/#?secret=3PCygBRP7K" data-secret="3PCygBRP7K" width="600" height="338" frameborder="0" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no"></iframe>
</div></figure>



<p></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tnsatu.org/2020/08/16/membangun-di-atas-kompetensi-moral/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>30 Tahun SMA Kami, SMA Penuh Dengan SARA</title>
		<link>https://tnsatu.org/2020/07/14/30-tahun-sma-kami-sma-penuh-dengan-sara/</link>
					<comments>https://tnsatu.org/2020/07/14/30-tahun-sma-kami-sma-penuh-dengan-sara/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Administrator TNSatu.org]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 14 Jul 2020 06:40:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sinergi dan Komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[Sumber Daya Manusia]]></category>
		<category><![CDATA[Dodi Mawardi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tnsatu.org/?p=5479</guid>

					<description><![CDATA[Sejak kecil, saya hidup di lingkungan yang homogen. Suku Sunda dan beragama Islam. Sangat homogen. Bahasa sehari-hari adalah bahasa Sunda.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Sejak kecil, saya hidup di lingkungan yang homogen. Suku Sunda dan beragama Islam. Sangat homogen. Bahasa sehari-hari adalah bahasa Sunda. Plus bahasa Indonesia ketika mulai bersekolah. Hanya ada satu dua orang yang berbeda dari kami, kemudian. Orang Jawa yang berhasil menyunting gadis desaku, atau Orang Bali yang bekerja di instansi negara. Saya bergaul dengan anak-anak mereka di kampung. Sudah itu saja. Tak ada lagi yang berbeda.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="705" src="https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2020/07/WhatsApp-Image-2020-07-14-at-13.21.35-1024x705.jpeg" alt="" class="wp-image-5484" srcset="https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2020/07/WhatsApp-Image-2020-07-14-at-13.21.35-1024x705.jpeg 1024w, https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2020/07/WhatsApp-Image-2020-07-14-at-13.21.35-300x207.jpeg 300w, https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2020/07/WhatsApp-Image-2020-07-14-at-13.21.35-768x529.jpeg 768w, https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2020/07/WhatsApp-Image-2020-07-14-at-13.21.35-130x90.jpeg 130w, https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2020/07/WhatsApp-Image-2020-07-14-at-13.21.35.jpeg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p>Di sekolah, saya sering membaca buku tentang Indonesia yang penduduknya beragam. Jumlah suku bangsanya ratusan, bahasanya juga ratusan, dan agamanya ada lima. Tapi hanya di buku. Pada kehidupan sehari-hari, fakta di buku itu tak pernah kutemukan.</p>



<p>Sungguh terkaget-kaget luar biasa, ketika pada tahun 1990, saya membuktikan dengan mata dan kepala serta seluruh panca indera makna lagu Rhoma Irama.</p>



<p>“Seratus tiga puluh lima juta penduduk Indonesia. Terdiri dari banyak suku-bangsa, itulah Indonesia. Ada Sunda, ada Jawa, &nbsp;Aceh, Padang, Batak, dan banyak lainnya&#8230;”</p>



<p>Saya bertemu, kemudian bersahabat, dan bahkan menjadi saudara saya sampai saat ini, semua suku bangsa yang disebut bang Rhoma itu. Dari 27 provinsi.</p>



<p>Seumur-umur baru kali itulah saya berjumpa saudara tercinta orang Papua, orang Minahasa, orang Manado, orang Ambon, orang Bima, orang Timor, orang Dayak, orang Kerinci, Banjar, dan lainnya. Bahkan waktu itu, saya masih bersahabat dengan orang Timor Timur. Persahabatan dan persaudaraan yang masih kami jaga sampai sekarang, meski batas negara memisahkan kemudian.</p>



<p>Saya juga baru berjumpa dengan orang Katolik, Protestan, Hindu, dan Budha.</p>



<p>Saya berinteraksi secara langsung dengan mereka. Sekamar dan satu tempat tidur dengan mereka. Mulai memahami perbedaan kami. Mulai menyadari secara nyata apa arti Bhineka Tunggal Ika. Moto bangsa kita yang selalu saya lihat terpampang di kaki lambang negara Burung Garuda. Terjadi gelegar budaya di dalam diri saya. Gelegar yang kemudian begitu saya syukuri. Saya termasuk segelintir anak bangsa yang sangat beruntung bisa hidup bersama ratusan remaja seumuran dari seluruh Indonesia. Begitu berwarna. Seperti pelangi. Latar belakang berbeda, meski rata-rata sama dari keluarga tak berada. Remaja dari pinggiran dan pelosok negeri.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="562" src="https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2020/07/WhatsApp-Image-2020-07-14-at-13.22.22-1024x562.jpeg" alt="" class="wp-image-5485" srcset="https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2020/07/WhatsApp-Image-2020-07-14-at-13.22.22-1024x562.jpeg 1024w, https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2020/07/WhatsApp-Image-2020-07-14-at-13.22.22-300x165.jpeg 300w, https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2020/07/WhatsApp-Image-2020-07-14-at-13.22.22-768x422.jpeg 768w, https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2020/07/WhatsApp-Image-2020-07-14-at-13.22.22.jpeg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p>Dari situlah mulai timbul kesadaran, betapa indahnya perbedaan, betapa indahnya warna-warni, betapa indahnya pelangi. Kehilangan satu warna saja, pasti tak lagi jadi pelangi. Tak betapa indah lagi&#8230; Tiga tahun bersama mereka, bersama para pamong, dan pengelola, membentuk cara pikir dan cara pandang yang sungguh berbeda dibanding sebelumnya. Wawasan kebangsaan, wawasan kejuangan, dan wawasan kebudayaan, melekat dalam jiwa.</p>



<p>Tiga puluh tahun sudah berlalu. 14 Juli 1990, Panglima ABRI Try Sutrino memberikan sambutan, dan Menhankam Benny Moerdani menandatangani prasasti. Memori itu begitu melekat. Ucapan terima kasih tak pernah cukup untuk mereka, para pendiri. Karena mereka, kini saya punya saudara tak sedarah, namun sebangsa dan setanah air, dari seluruh pelosok negeri. Bukan hanya dua ratusan remaja seangkatan, namun juga ribuan alumnus SMA Taruna Nusantara. Ke manapun saya pergi, mereka selalu ada. Selalu bersedia.</p>



<p>SMA kami memang berbeda. Buat kami sangat istimewa. SMA kami penuh dengan SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan). Jika sekarang masih banyak yang berteriak tentang perbedaan, tentang menghormati pihak lain, tentang kebhinekaan, kami sudah mempraktikkannya sejak remaja. Sudah tergenang dan mungkin mengendap dalam aliran darah. Kami bhineka, kami Pancasila. NKRI harga mati. Begitu kalimat-kalimat yang sering terdengar. Materi yang menyelusup setiap saat selama tiga tahun di sana&#8230;</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="768" src="https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2020/07/WhatsApp-Image-2020-07-14-at-13.23.12-1024x768.jpeg" alt="" class="wp-image-5483" srcset="https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2020/07/WhatsApp-Image-2020-07-14-at-13.23.12-1024x768.jpeg 1024w, https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2020/07/WhatsApp-Image-2020-07-14-at-13.23.12-300x225.jpeg 300w, https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2020/07/WhatsApp-Image-2020-07-14-at-13.23.12-768x576.jpeg 768w, https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2020/07/WhatsApp-Image-2020-07-14-at-13.23.12.jpeg 1280w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p>Setelah 30 tahun, kami melangkahkan kaki di jalur berbeda-beda. Di semua bidang kehidupan, mulai dari TNI/Polri, ASN, birokrat, teknokrat, akademisi, politisi, pengusaha, pedagang, pegawai kantoran, dan sebagainya. Perbedaan yang makin memperindah pelangi kami. Karena berbeda itulah, kami ada di mana-mana. Tapi yakinlah, visi kami tetap sama. Seperti pelangi, kehadirannya memperindah angkasa. Begitu pula kami. Kami hadir untuk mewarnai negeri, dengan karya terbaik bagi bangsa, negara, dan dunia.</p>



<p>“Jika tak bisa jadi pohon besar, maka jadilah pohon kecil yang mampu mendukung dan menumbuhkan pohon besar.”</p>



<p>Prof. Dr. Tarwotjo, MSc.</p>



<p>Dirgahayu ke-30  SMA Taruna Nusantara</p>



<p></p>



<p></p>



<p></p>



<p><em>Penulis :</em></p>



<p>Dodi Mawardi, dkk (Bidang Informasi TNSI)</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tnsatu.org/2020/07/14/30-tahun-sma-kami-sma-penuh-dengan-sara/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Catatan Optimistik pada 30 Tahun SMA Taruna Nusantara</title>
		<link>https://tnsatu.org/2020/07/14/catatan-optimistik-pada-30-tahun-sma-taruna-nusantara/</link>
					<comments>https://tnsatu.org/2020/07/14/catatan-optimistik-pada-30-tahun-sma-taruna-nusantara/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Administrator TNSatu.org]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 13 Jul 2020 17:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sumber Daya Manusia]]></category>
		<category><![CDATA[Dodi Mawardi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tnsatu.org/?p=5474</guid>

					<description><![CDATA[“Cukup 10% saja alumni SMA ini berhasil mewarnai Indonesia, maka kami sudah bahagia&#8230;” Kira-kira begitulah cita-cita para pendiri SMA Taruna]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="507" height="430" src="https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2020/07/14-Juli-2-Balairung.jpg" alt="" class="wp-image-5475" srcset="https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2020/07/14-Juli-2-Balairung.jpg 507w, https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2020/07/14-Juli-2-Balairung-300x254.jpg 300w" sizes="(max-width: 507px) 100vw, 507px" /></figure>



<p>“Cukup 10% saja alumni SMA ini berhasil mewarnai Indonesia, maka kami sudah bahagia&#8230;”</p>



<p>Kira-kira begitulah cita-cita para pendiri SMA Taruna Nusantara Magelang, ketika merancang dan kemudian mewujudkan suatu SMA berasrama dengan muatan pendidikan berwawasan kejuangan, kebangsaan, dan kebudayaan. Suatu SMA yang menyeimbangkan pendidikan karakter (kepribadian), intelektual, dan kesamaptaan jasmani. Sebagian besar para pendiri itu, sudah menghadap sang ilahi. Semoga Tuhan menempatkan mereka di sisi terbaiknya.</p>



<p>Sekolah berusia 30 tahun, belumlah cukup umur. Ibarat seorang manusia, usia 30 adalah saat-saat mencari jati diri yang sesungguhnya. Menuju penemuan jati diri. Apakah saat ini saya sudah benar-benar menjalani hidup sesuai jati diri? Seperti apakah jati diri saya? Yang mana jati diri saya? Apakah tujuan saya hidup? Dan beragam pertanyaan senada lainnya.</p>



<p>Di Indonesia, terdapat begitu banyak SMA berusia senior. Di atas 40 tahun. SMA-SMA negeri di kota-kota besar, rata-rata berusia di atas 40 tahun. Bahkan ada yang usianya lebih tua dibanding Indonesia. Di Surabaya misalnya, ada SMA Komplek yang di dalamnya terdapat SMAN 1, SMAN 2, SMAN 5, dan SMAN 9. Konon, cikal bakal sekolah ini berdiri pada 1923, masih pada zaman Belanda dan bernama Hogere Burger-School Surabaya (HBS Surabaya). Di komplek inilah, presiden pertama Indonesia Sukarno menimba ilmu.</p>



<p>Selain SMA Negeri, SMA swasta pun sudah banyak yang berusia senior. SMA Muhamadyah Yogyakarta misalnya, yang berdiri pada 1948. Atau Perguruan Taman Siswa yang sudah mulai mendirikan sekolah sejak 1922. Banyak lagi SMA lain berusia senior di berbagai daerah. Kiprah dari para alumnus sekolah-sekolah senior itu sudah terlihat, terbukti, dan mewarnai bangsa ini di berbagai bidang.</p>



<p>B.J. Habibie dan Ainun merupakan lulusan SMA Kristen Dago Bandung, yang sudah berdiri sejak tahun 1950. Gus Dur adalah lulusan Pesantren Tegal Rejo Magelang dan Bahrul Ulum Tambak Beras Jombang. Dua pesantren yang sudah berdiri sejak zaman penjahahan Belanda. Megawati lulusan Perguruan Cikini, suatu lembaga pendidikan yang berdiri pada 1942. SBY lulusan SMAN 1 Pacitan yang sudah berdiri sejak 1963. Jokowi adalah lulusan SMPP Solo (kemudian menjadi SMAN 6), yang sudah berdiri sejak 1975. Orang-orang top Indonesia merupakan hasil dari sekolah-sekolah tua, yang sampai sekarang masih eksis.</p>



<p>Bagaimana dengan alumni SMA Taruna Nusantara?</p>



<p>Pada usianya yang ke-30 pada 14 Juli 2020 ini, para pendiri yang sudah mendahului seharusnya bisa tersenyum bahagia di alam sana. Semoga. Para pendiri yang masih ada seperti Pak Try Sutrisno, Pak Adnan Ganto, dan Pak Husein Ibrahim, semoga juga dapat tersenyum bangga. Apa yang mereka impikan dulu, mulai menjadi kenyataan. Beberapa alumni menunjukkan kiprahnya mewarnai bangsa ini. Berapa jumlahnya? Sudahkah mencapai 10%?</p>



<p>Di bidang militer, sudah puluhan bocah Pirikan yang berpangkat kolonel. Beberapa di antaranya, bersiap-siap meraih bintang. Pun demikian di kepolisian. Puluhan Ikastaran berpangkat komisaris besar (Kombes) dan beberapa di antaranya menyiapkan diri menyandang bintang di pundak. Mereka – para kolonel dan kombes itu – dipercaya di beberapa pos penting, termasuk menjadi ajudan presiden.</p>



<p>Di bidang pemerintahan sipil, beberapa alumnus sukses menempati posisi penting. Bahkan sudah ada yang meraih level tertinggi ASN yaitu eselon 1. Seperti di jenjang karier militer dan kepolisian, tidak mudah meraih posisi puncak. Di BUMN, sudah dua putra terbaik SMA TN yang menduduki posisi direktur. Semoga beberapa waktu ke depan terus bertambah.</p>



<p>Di bidang akademik, lebih dari 100 alumni SMA TN berhasil meraih gelar tertinggi S3 (Doktor) baik dari perguruan tinggi dalam negeri maupun luar negeri. Bahkan salah satunya sudah mendapatkan kehormatan tertinggi sebagai guru besar (profesor) di Universitas Gajah Mada, serta seorang lagi menjadi rektor perguruan tinggi di Palembang.</p>



<p>Di bidang lainnya, kiprah alumni SMA TN juga tak kalah membanggakan. Mereka menjadi pioner di bidang pendidikan, pemimpin perusahaan besar dan kecil, pengusaha, seni budaya, serta peran lainnya. Sekecil apapun peran itu, selama positif, pasti akan mewarnai negeri. Energi yang sama seperti cita-cita para pendiri.</p>



<p>Yang paling menarik di bidang politik. Kiprah alumni SMA Taruna Nusantara akan sangat menentukan pada Pemilu 2024 mendatang. Dua partai politik besar, yaitu Partai Gerindra dan Partai Demokrat, dikawal oleh bocah-bocah Pirikan. Posisi mereka tidak main-main di kedua partai tersebut. Yang satu menjabat sebagai wakil ketua umum, dan yang satu lagi adalah ketua umum. Ya, Ketua Umum Partai Demokrat saat ini adalah alumnus SMA Taruna Nusantara Magelang. Ikastaran juga tersebar di beberapa parpol lainnya seperti PDI P, Golkar, PAN, dan PKPI.</p>



<p>Perlahan tapi pasti, bocah-bocah Pirikan terus bergerak, berkiprah, dan mewarnai bangsa ini dengan karya terbaik. Sesuai pesan para pendiri. “Di manapun berada memberikan karya terbaik bagi bangsa, negara, dan dunia.” Di berbagai bidang kehidupan. Semoga Allah swt., Tuhan semesta alam, meridho seluruh langkah kita.</p>



<p>Usia 30 memang masih muda. Sering dianggap belum cukup umur. Akan tetapi, karya terbaik tak jarang lahir dari mereka yang dianggap belum cukup umur itu.</p>



<p>Dirgahayu SMA TN!</p>



<p></p>



<p></p>



<p><em>Penulis :</em></p>



<p>Dodi Mawardi, dkk (Bidang Informasi TNSI)</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tnsatu.org/2020/07/14/catatan-optimistik-pada-30-tahun-sma-taruna-nusantara/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>1</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Secuil Kisah tentang Luluk</title>
		<link>https://tnsatu.org/2020/07/11/secuil-kisah-tentang-luluk/</link>
					<comments>https://tnsatu.org/2020/07/11/secuil-kisah-tentang-luluk/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Administrator TNSatu.org]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 11 Jul 2020 11:12:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[Sumber Daya Manusia]]></category>
		<category><![CDATA[Luluk Andriyanto Achmad]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tnsatu.org/?p=5468</guid>

					<description><![CDATA[Sudah lama saya ingin menulis tentang Luluk. Kawan seangkatan di SMA. Orang Lombok. Ketika mendengar namanya, sekilas yang berkelebat di]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Sudah lama saya ingin menulis tentang Luluk. Kawan seangkatan di SMA. Orang Lombok. Ketika mendengar namanya, sekilas yang berkelebat di kepala saya adalah seorang wanita. Nama Luluk, identik dengan nama seorang wanita. Itulah persepsi yang ada di benak saat pertama kali mengenalnya, pada 1990 lalu. Kalau membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) “luluk” bermakna lumpur. Setelah mengenal Luluk kawan SMA ini, barulah saya sadar bahwa nama Luluk itu berkelamin ganda: pria dan wanita&#8230; Beda dengan nama saya, Dodi. Jarang sekali wanita memiliki nama ini.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="944" height="623" src="https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2020/07/WhatsApp-Image-2020-07-11-at-18.01.02.jpeg" alt="" class="wp-image-5469" srcset="https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2020/07/WhatsApp-Image-2020-07-11-at-18.01.02.jpeg 944w, https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2020/07/WhatsApp-Image-2020-07-11-at-18.01.02-300x198.jpeg 300w, https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2020/07/WhatsApp-Image-2020-07-11-at-18.01.02-768x507.jpeg 768w" sizes="(max-width: 944px) 100vw, 944px" /></figure>



<p>Luluk kawan saya ini seorang pria. Pria sejati. Tulen. Dia seperti kata KBBI, mirip lumpur. Bisa mengalir ke mana saja. Cair. Bergaul ke sana ke mari. Masuk ke kalangan mana pun. Menyatu. Dikenal dengan sangat baik oleh seluruh teman seangkatan, dan diketahui dengan pasti oleh sebagian besar adik kelas. Minimal sampai angkatan ke-7, hehe angkatan pertama masuknya siswi di SMA kami. Bagi kami, kawan seangkatannya, Luluk menjadi simbol pergaulan dan persahabatan. Tak salah jika dalam organisasi internal angkatan, dia menjabat sebagai ketua bidang sinergi.</p>



<p>Beberapa tahun silam, puluhan tahun setelah tak berjumpa secara langsung, saya menyambangi Surabaya untuk urusan pekerjaan. Dalam grup komunikasi angkatan sering muncul kalimat, “Ke Surabaya kalau tak berjumpa Luluk, belum lengkap&#8230;” Luluk dan geng Surabayanya memberikan kesan positif bagi siapa pun kawan yang berkunjung ke Surabaya. Selalu ada “penyambutan khas” ala Luluk dan gengnya. Tentu saya tak mau ketinggalan kesan itu.</p>



<p>Sengaja saya sempatkan waktu untuk menemuinya. Bukan di cafe atau di mal, tapi di rumahnya. Meski sudah cukup malam, di atas jam 21, Luluk dengan suara riang gembira menyilakan saya datang. Dan&#8230; selama beberapa jam di rumahnya, penuh dengan kesan. Ribuan kata sarat cerita meluncur dari mulut kami berdua. Bernostalgia. Hanya berdua. Suit suiiit&#8230; sayang sekali Luluk yang ini berjenis kelamin pria, berjenggot panjang, dan bersuara bass.</p>



<figure class="wp-block-image size-large is-resized"><img decoding="async" src="https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2020/07/WhatsApp-Image-2020-07-11-at-16.11.27-576x1024.jpeg" alt="" class="wp-image-5471" width="392" height="697" srcset="https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2020/07/WhatsApp-Image-2020-07-11-at-16.11.27-576x1024.jpeg 576w, https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2020/07/WhatsApp-Image-2020-07-11-at-16.11.27-169x300.jpeg 169w, https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2020/07/WhatsApp-Image-2020-07-11-at-16.11.27.jpeg 720w" sizes="(max-width: 392px) 100vw, 392px" /></figure>



<p>Bukan hanya senang menyambut dan dikunjungi, Luluk juga kawan yang paling sering menyambangi kawan seangkatannya di berbagai kota. Minimal dalam hitungan saya. Tempat tinggal boleh saja di Surabaya (Sidoarjo tepatnya), namun langkah kakinya sangat jauh. Suatu hari dia bisa tiba-tiba berada di Yogyakarta, lalu di Jakarta, atau di kota lain. Sering tanpa rencana. Ujug-ujug. Padahal sebagian besar dari kami, harus merencanakan lama untuk pergi ke luar kota. Luluk tidak. Dia beda. Kadang saya bertanya-tanya juga, “Istrinya bagaimana? Keluarganya bagaimana? Pekerjaannya bagaimana?” Deretan pertanyaan yang tak pernah ditanyakan langsung kepadanya. Sungkan&#8230; Dia sering datang ke kota-kota di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi atau pulau lain bahkan sampai ke luar negeri, menyambangi kawannya di sana. Jarak, waktu, biaya, seperti bukan masalah buatnya.</p>



<p>Luluk itu dirindukan siapa pun. Bukan hanya di dunia nyata, tapi juga di dunia maya. Grup angkatan kami (WA atau telegram), tak seru tanpa kehadirannya. Nyaris setiap hari&#8230; eh setiap waktu, Luluk muncul. Ada saja idenya. Celotehnya. Dan, mampu memancing kawan yang lain untuk ikut berkomentar. Grup komunikasi itu menjadi selalu ramai dan seru. Hanya satu kawan yang mampu sedikit menyamai prestasi Luluk dalam ber-WA atau telegram. Iwan namanya. Sama-sama berdomisili di Surabaya. Padahal dia orang Ambon. Mereka berdua selalu online di grup itu. Kadang hanya berduaan saling melempar kata&#8230;  Saya bertanya-tanya lagi, “Istrinya bagaimana? Keluarganya bagaimana? Pekerjaannya bagaimana?” Deretan pertanyaan yang tak pernah saya tanyakan langsung. Sungkan&#8230;</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="768" height="1024" src="https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2020/07/WhatsApp-Image-2020-07-11-at-12.43.56-768x1024.jpeg" alt="" class="wp-image-5470" srcset="https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2020/07/WhatsApp-Image-2020-07-11-at-12.43.56-768x1024.jpeg 768w, https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2020/07/WhatsApp-Image-2020-07-11-at-12.43.56-225x300.jpeg 225w, https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2020/07/WhatsApp-Image-2020-07-11-at-12.43.56.jpeg 960w" sizes="(max-width: 768px) 100vw, 768px" /><figcaption>Luluk bersama alm Hidayanto BP</figcaption></figure>



<p>Semalam Luluk menangis. Air matanya mengalir deras. Baru kali ini saya melihatnya menangis seradikal itu. Terisak. Sesenggukan. Kata-katanya menghilang. Untung hanya terlihat lewat zoom, si aplikasi populer di masa pandemi Covid-19. Apa yang membuatnya menangis? Kisah tentang kawan-kawan kami yang meninggal lebih dulu. Air matanya menandakan kehilangan yang sangat atas kepergian kawan kami untuk selama-lamanya. Dan Luluk adalah kawan kami yang hampir selalu ada dan hadir mewakili angkatan untuk takziah, atau menemui keluarga kawan yang meninggal. Tak peduli di manapun dan kapan pun. Begitu dapat kabar meninggal, seperti kebiasaannya tanpa rencana keluar kota, dia langsung meluncur ke TKP. Sungguh, kami beruntung punya Luluk.</p>



<p>Dan sekarang, mengakhiri tulisan ini, air mata saya yang mulai mengalir&#8230;</p>



<p></p>



<p></p>



<p><em>Penulis :</em></p>



<p>Dodi Mawardi , dkk (Bidang Informasi TNSI)</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tnsatu.org/2020/07/11/secuil-kisah-tentang-luluk/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
