<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Muhamad Choirul Amri &#8211; TNSatu Institute</title>
	<atom:link href="https://tnsatu.org/tag/muhamad-choirul-amri/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://tnsatu.org</link>
	<description>Kita Satu Menuju Indonesia Satu</description>
	<lastBuildDate>Wed, 13 Feb 2019 15:50:43 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.4.8</generator>

<image>
	<url>https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2019/01/cropped-favicon-32x32.jpg</url>
	<title>Muhamad Choirul Amri &#8211; TNSatu Institute</title>
	<link>https://tnsatu.org</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Tinggalkan Microsoft Demi Membangun Kampung Halaman</title>
		<link>https://tnsatu.org/2018/11/20/tinggalkan-microsoft-demi-membangun-kampung-halaman/</link>
					<comments>https://tnsatu.org/2018/11/20/tinggalkan-microsoft-demi-membangun-kampung-halaman/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Administrator TNSatu.org]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 20 Nov 2018 16:18:58 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ekonomi dan Kewirausahaan]]></category>
		<category><![CDATA[Muhamad Choirul Amri]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://tnsatu.org/?p=4067</guid>

					<description><![CDATA[Sebenarnya, mimpi Muhammad Choirul Amri sudah tercapai ketika bekerja di Microsoft pada 2013 lalu. Tapi ia malah memutuskan keluar dari]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Sebenarnya, mimpi Muhammad Choirul Amri sudah tercapai ketika bekerja di Microsoft pada 2013 lalu. Tapi ia malah memutuskan keluar dari perusahaan itu untuk membangun kampung halamannya, Desa Kuniran, Ngawi, Jawa Timur.<br><br>Ya, hal ini spontan saja mengundang tanya dari banyak orang? Apa yang dipikirkan dia? Apalagi Microsoft adalah perusahaan global ternama.<br> Mengapa dirinya lebih memilih berjuang membuat kampungnya itu menjadi desa wisata?<br><br>Choirul tak sedang bercanda. Saking seriusnya, ia berencana untuk mengintegrasikan Embung Kuniran, Cagar Budaya Lumbung Padi, sanggar karawitan setempat, dan peternakan kambing.<br><br>Area-area tersebut dapat menjadi tujuan wisatawan lokal dan mancanegara untuk merasakan kehidupan asli desa Indonesia atau hanya sekadar berswafoto.<br><br>Kata dia, persoalan di kampungnya itu sebenarnya sederhana. Ia pun mengaku menemukan hal itu saat dirinya membantu budidaya lele.<br><br>Menurutnya, warga desa memiliki kemampuan untuk mengembangkan desa. Tetapi mereka tidak memiliki pendamping dan pengawas yang dapat memberikan masukan atas apa yang harus dilakukan.<br><br>Hingga akhirnya pada Oktober 2017, ia bersama warga membentuk kelompok sadar wisata (pokdarwis). Kelompok itu berkomitmen untuk memperbaharui tampilan Desa Kuniran.<br><br>Nah, salah satunya dengan membuat menara untuk swafoto di Embung Kuniran, salah satu aset utama desa tersebut.<br><br>Choirul Amri kaget. Warga ternyata antusias dan mampu mengumpulkan dana sendiri. Mereka juga membangun menara itu dengan keterampilan sendiri.<br><br>Choirul pun akhirnya resmi mendirikan Rumah Inspirasi Nusantara pada Januari 2018. Rumah tersebut merupakan wadah kegiatan pemberdayaan masyarakat dan desa yang dilakukan di Ngawi.</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>Bekal Pengalaman di Microsoft</strong></h3>



<figure class="wp-block-image"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="720" height="385" src="http://tnsatu.org/wp-content/uploads/2019/01/Choirul-Amri-1.jpeg" alt="" class="wp-image-4068" srcset="https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2019/01/Choirul-Amri-1.jpeg 720w, https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2019/01/Choirul-Amri-1-300x160.jpeg 300w" sizes="(max-width: 720px) 100vw, 720px" /></figure>



<p>Intinya sederhana. Ia ingin membuat kegiatan yang dapat membuat mata wisatawan lokal melirik Desa Kuniran. Nah, bersama pemerintah desa, ia menyelenggarakan kontes fotografi dengan tema #KuniranNgangeni.<br><br>Apalagi kalau bukan demi memviralkan desa melalui media sosial. Malahan ia sampai mengajak beberapa model yang terkenal di daerah tersebut untuk hadir dalam acara itu.<br><br>Sejak kegiatan itulah jumlah kunjungan wisatawan ke Desa Kuniran bertambah. Jika dulu hanya sekitar 50 orang datang pada Sabtu dan Minggu, sekarang jumlah pengunjung bisa mencapai 200 orang.<br><br>“Pasar itu ada. Masalahnya warga desa siap atau tidak,” ucapnya. Meningkatnya jumlah wisatawan seolah membuat warga terbangun dari tidur. Rasa percaya diri mereka pun tumbuh.<br><br>Sejak itu, inovasi terus dilakukan. Mereka selalu bersemangat untuk mempercantik desa dan mengadakan kegiatan yang membuat wisatawan datang.<br><br>Namun kisah dedikasi Choirul untuk kampung halamannya sebenarnya harus diceritakan saat dirinya membudidayakan lele.<br><br>Tepatnya Februari 2015, Choirul mengajak 30 orang di desanya untuk menggeluti dunia lele dengan lebih serius. Mereka sampai membentuk kelompok pembudidaya ikan (pokdakan).<br><br>Saat itu, katanya, warga desa masih belum mampu memanajemen keuangan dengan baik. Uang untuk budidaya tidak dipisahkan dengan uang untuk pengeluaran pribadi atau rumah tangga.<br><br>Alhasil pembudidaya kerap kekurangan dana untuk membeli pakan karena uang telah dipakai untuk keperluan lainnya.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Tak Pernah Patah Arang Bangun Kampung Halaman di Ngawi</h3>



<figure class="wp-block-image"><img decoding="async" width="720" height="480" src="http://tnsatu.org/wp-content/uploads/2019/01/Choirul-Amri-2.jpeg" alt="" class="wp-image-4070" srcset="https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2019/01/Choirul-Amri-2.jpeg 720w, https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2019/01/Choirul-Amri-2-300x200.jpeg 300w" sizes="(max-width: 720px) 100vw, 720px" /></figure>



<p>Tak patah arang, Choirul memutuskan memberikan dana bergulir sebesar Rp10 juta untuk membeli pakan lele.<br><br>Koperasi pakan itu berjalan dengan sistem peminjaman pakan kepada para pembudidaya. Mereka akan membayar pakan yang telah dipakai setelah memanen ikan mereka.<br><br>Jadi sederhananya, uang kredit itu akan kembali digunakan untuk membeli pakan berikutnya. Meski sukses, Choirul belum puas.<br><br>Dua tahun berjalan, ia mulai mencari informasi soal peternakan kambing perah. Ia tertarik untuk menggeluti peternakan kambing karena memiliki banyak produk turunan, seperti susu cair, susu bubuk, kefir, yogurt, es krim, dan sabun.<br><br>Kata dia, susu kambing memiliki nilai jual yang lebih mahal daripada susu sapi.<br><br>Ia menjelaskan susu kambing dapat dijual Rp40.000-Rp50.000 per liter. Sekali memerah, satu ekor kambing dapat menghasilkan sekitar 1-1,5 liter susu. Susu itu bermanfaat untuk terapi berbagai penyakit, di antaranya diabetes, asma, dan darah tinggi.<br><br>Kendati demikian, upayanya itu sempat tidak dipercaya warga. Choirul sampai harus melakukan presentasi beberapa kali kepada warga desa.<br><br>Sistem yang ia terapkan adalah menggandeng mereka sebagai mitra. Calon peternak itu akan bertugas memelihara kambing dan memerah susu.<br><br>Awalnya, cuma ada dua orang yang tertarik ikut. Namun, ia tidak menyerah.<br><br>Dari dua orang itu, keuntungan yang mereka dapatkan tersebar. Jadi sistem yang ia terapkan adalah memberi mereka gaji tetap Rp400.000 per bulan.<br><br>Mereka akan memeroleh bonus Rp7.000 per liter susu yang diperah dan rata-rata Rp30.000 per kilogram untuk setiap berat badan anak kambing (cempe) yang berhasil ditambah.<br><br>Ternyata lama-kelamaan semakin banyak yang tertarik bekerja dengannya. Dari dua menjadi enam. Lalu sekarang bertambah lagi.<br><br>Informasi bahwa semua mendapat bayaran minimal Rp1,5 juta per bulannya dan memiliki sekitar 80 ekor kambing menyebar cepat.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Choirul Amri Selalu Membuat Produk Turunan</h3>



<p>Choirul lalu membuat produk turunannya. Sebut saja seperti sabun batang susu kambing. Nah untuk yang ini, ia melibatkan setidaknya 30 orang.<br><br>Mereka bekerja sebagai pekerja lepas setiap beberapa bulan sekali, yang mayoritas adalah ibu rumah tangga. Malah dengan mereka peternakannya yang bernama Bumi Retawu Farm itu juga mengembangkan budidaya tanaman hidroponik.<br><br>Orang luar pun bertanya siapa sih Choirul Amri ini.<br><br>Sosok pria berusia 43 tahun ini sebenarnya tidak memiliki latar belakang di bidang ekonomi ataupun pariwisata. Ia adalah lulusan Teknik Industri STT Telkom Bandung.<br><br>Keterampilan budidaya lele dan ternak kambing sebagian besar diperoleh dari internet dan bertanya-tanya.<br><br>Memang, sebelum berkiprah di kampung, ia melanglang buana ke berbagai negara. Ketika bekerja di Microsoft Indonesia, ia beberapa kali menggarap proyek IT di Malaysia, Thailand, Singapura, Brunei Darussalam, dan Amerika Serikat.<br><br>Selama bekerja di Microsoft, Choirul bahkan sempat menyabet penghargaan Circle of Excellence Platinum Microsoft sebagai 25 Konsultan Dunia Terbaik pada 2013.<br><br>Hasil kerja kerasnya yang tak punya hari libur dalam setahun membawanya ke puncak sukses itu. Malahan katanya dulu produktivitasnya mencapai 173 persen.<br></p>



<p>Sampai pada akhirnya ia meminta izin atasannya untuk ke Chicago, AS untuk mengikuti pelatihan langsung dari Paul Randal. Ya benar, dia adalah salah seorang tokoh Community Leader Database di Microsoft.<br><br>Randal sendiri ia akui sebagai idolanya. Menariknya, karena terinspirasi dari idolanya pula ia kemudian memutuskan berpisah dengan Microsoft.<br><br>Bagi Choirul Amri, ia tidak menyesal dengan keputusannya keluar dari Microsoft. Sebab, impiannya untuk membuat Kuniran menjadi desa wisata kini pelan-pelan diwujudkannya.</p>



<p><em>Sumber: </em><a rel="noreferrer noopener" href="https://fakta.news/sosok/choirul-amri-bangun-kampung-halaman" target="_blank"><em>https://fakta.news/sosok/choirul-amri-bangun-kampung-halaman</em></a><em> </em></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tnsatu.org/2018/11/20/tinggalkan-microsoft-demi-membangun-kampung-halaman/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>M. Choirul Amri, Meninggalkan Puncak Mimpi Demi Rumah Inspirasi Nusantara</title>
		<link>https://tnsatu.org/2018/07/25/m-choirul-amri-tn-1-meninggalkan-puncak-mimpi-demi-rumah-inspirasi-nusantara/</link>
					<comments>https://tnsatu.org/2018/07/25/m-choirul-amri-tn-1-meninggalkan-puncak-mimpi-demi-rumah-inspirasi-nusantara/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Administrator TNSatu.org]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 24 Jul 2018 18:41:51 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ekonomi dan Kewirausahaan]]></category>
		<category><![CDATA[Muhamad Choirul Amri]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://tnsatu.org/?p=4073</guid>

					<description><![CDATA[Impian Muhammad Choirul Amri (43) tercapai ketika bekerja di Microsoft pada 2013. Namun, ia memutuskan keluar dari perusahaan global ternama]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<h3 class="wp-block-heading"></h3>



<figure class="wp-block-image"><img decoding="async" width="720" height="480" src="http://tnsatu.org/wp-content/uploads/2019/01/Choirul-Amri-2.jpeg" alt="" class="wp-image-4070" srcset="https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2019/01/Choirul-Amri-2.jpeg 720w, https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2019/01/Choirul-Amri-2-300x200.jpeg 300w" sizes="(max-width: 720px) 100vw, 720px" /></figure>



<p>Impian Muhammad Choirul Amri (43) tercapai ketika bekerja di Microsoft pada 2013. Namun, ia memutuskan  keluar dari perusahaan global ternama itu karena ada impian lain yang ingin diwujudkannya. Yakni, membuat Desa Kuniran Ngawi Jawa Timur, kampung halamannya, menjadi desa wisata.<br><br>Untuk merealisasikannya, Choirul berencana untuk mengintegrasikan Embung Kuniran, Cagar Budaya Lumbung Padi, sanggar karawitan setempat, dan peternakan kambing. Area-area tersebut dapat menjadi tujuan wisatawan lokal dan mancanegara untuk merasakan kehidupan asli desa Indonesia atau hanya sekadar berswafoto.<br><br>“Sebenarnya, sejak saya membantu budidaya lele di kampung, saya menyadari masalah yang ada di desa sebenarnya sederhana,” kata Choirul saat ditemui di Jakarta, Rabu (19/7/2018).<br><br>Warga desa memiliki kemampuan untuk mengembangkan desa, tetapi mereka tidak memiliki pendamping dan pengawas yang dapat memberikan masukan atas apa yang harus dilakukan.<br><br>Pada Oktober 2017, ia bersama warga membentuk kelompok sadar wisata (pokdarwis). Kelompok itu berkomitmen untuk memperbaharui tampilan Desa Kuniran. Salah satunya dengan membuat menara untuk swafoto di Embung Kuniran, salah satu aset utama desa tersebut.<br><br>Hal yang mengejutkan Choirul terjadi. Warga antusias dan mampu mengumpulkan dana sendiri. Mereka juga membangun menara itu dengan keterampilan sendiri.<br><br>Choirul akhirnya resmi mendirikan Rumah Inspirasi Nusantara pada Januari 2018. Rumah tersebut merupakan wadah kegiatan pemberdayaan masyarakat dan desa yang dilakukan di Ngawi.<br><br>Ia pun berinisiatif untuk membuat kegiatan yang dapat membuat mata wisatawan lokal melirik Desa Kuniran. Bersama pemerintah desa, ia menyelenggarakan kontes fotografi dengan tema #KuniranNgangeni.<br><br>Upaya itu ia lakukan demi memviralkan desa melalui media sosial. Tak ketinggalan ia juga mengajak beberapa model yang terkenal di daerah tersebut untuk hadir dalam acara tersebut.<br><br>Sejak kegiatan itu, jumlah kunjungan wisatawan ke Desa Kuniran bertambah. Dulu hanya sekitar 50 orang datang pada Sabtu dan Minggu, sedangkan sekarang jumlah pengunjung bisa mencapai 200 orang.<br><br>“Pasar itu ada. Masalahnya warga desa siap atau tidak,” ucapnya. Meningkatnya jumlah wisatawan seolah membuat warga terbangun dari tidur. Rasa percaya diri mereka pun tumbuh.<br><br>Mereka kian bersemangat untuk mempercantik desa dan mengadakan kegiatan yang membuat wisatawan datang. Kendati masih banyak hal yang perlu ditingkatkan untuk mewujudkan Desa Kuniran sebagai desa wisata, setidaknya saat ini desa itu telah bergerak ke arah yang tepat.</p>



<figure class="wp-block-image"><img decoding="async" width="720" height="385" src="http://tnsatu.org/wp-content/uploads/2019/01/Choirul-Amri-1.jpeg" alt="" class="wp-image-4068" srcset="https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2019/01/Choirul-Amri-1.jpeg 720w, https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2019/01/Choirul-Amri-1-300x160.jpeg 300w" sizes="(max-width: 720px) 100vw, 720px" /></figure>



<p><strong>Budidaya lele</strong><br>Impiannya untuk membangun desa sebenarnya mulai dipupuk sejak ia berencana untuk membudidayakan lele di kampung halamannya, Desa Kuniran pada Februari 2015. Choirul pun mengajak 30 orang di desanya untuk menggeluti dunia itu dengan lebih serius. Mereka pun membentuk kelompok pembudidaya ikan (pokdakan).<br><br>Namun, kendala pertama yang ia lihat adalah, warga desa masih belum mampu memanajemen keuangan dengan baik. Uang untuk budidaya tidak dipisahkan dengan uang untuk pengeluaran pribadi atau rumah tangga. Dampaknya, pembudidaya kerap kekurangan dana untuk membeli pakan karena uang telah dipakai untuk keperluan lainnya.<br><br>“Akhirnya saya memutuskan untuk memberikan dana bergulir sebesar Rp 10 juta,” ucap Choirul. Dengan uang sebanyak itu, Choirul membeli pakan lele.<br><br>“Koperasi pakan” itu berjalan dengan sistem peminjaman pakan kepada para pembudidaya. Mereka akan membayar pakan yang telah dipakai setelah memanen ikan mereka. Uang kredit itu akan kembali digunakan untuk membeli pakan berikutnya.<br><br>Beranjak dari kejadian itu, keinginan Choirul untuk membantu warga desanya semakin membara. Ngawi sebenarnya telah terkenal dengan berbagai produk makanan, seperti keripik. Tetapi ia ingin sesuatu yang berbeda.</p>



<p><strong>Susu kambing</strong><br>Pada Oktober 2017, Choirul mulai mencari informasi soal peternakan kambing perah. Ia tertarik untuk menggeluti peternakan kambing karena memiliki banyak produk turunan, seperti susu cair, susu bubuk, kefir, yogurt, es krim, dan sabun.<br><br>“Susu kambing memiliki nilai jual yang lebih mahal daripada susu sapi,” tuturnya. Susu kambing dapat dijual Rp 40.000-Rp 50.000 per liter. Sekali memerah, satu ekor kambing dapat menghasilkan sekitar 1-1,5 liter susu. Susu itu bermanfaat untuk terapi berbagai penyakit, di antaranya diabetes, asma, dan darah tinggi.<br><br>Dalam memulai usaha itu, Choirul melakukan presentasi beberapa kali kepada warga desa untuk mengajak mereka terlibat. Sistem yang ia terapkan adalah menggandeng mereka sebagai mitra. Calon peternak itu akan bertugas memelihara kambing dan memerah susu.<br><br>Selesai presentasi, hanya ada dua orang yang tertarik ikut. Namun, ia tidak menyerah.<br><br>Sistem yang ia terapkan adalah memberi mereka gaji tetap Rp 400.000 per bulan. Mereka akan memeroleh bonus Rp 7.000 per liter susu yang diperah dan rata-rata Rp 30.000 per kilogram untuk setiap berat badan anak kambing (cempe) yang berhasil ditambah.<br><br>Lama-kelamaan semakin banyak yang tertarik bekerja dengannya, hingga kini mitranya menjadi enam orang. “Mereka mendapat bayaran minimal Rp 1,5 juta per bulannya,” ucapnya, yang kini memiliki sekitar 80 ekor kambing.<br><br>Choirul pun kemudian memutuskan untuk membuat produk turunnya, yakni sabun batang susu kambing. Dalam proyek itu, ia melibatkan setidaknya 30 orang. Mereka bekerja sebagai pekerja lepas setiap beberapa bulan sekali, yang mayoritas adalah ibu rumah tangga.<br><br>Kini, peternakannya yang bernama Bumi Retawu Farm itu juga berusaha mengembangkan usaha lainnya, seperti budidaya tanaman hidroponik.</p>



<figure class="wp-block-image"><img decoding="async" width="720" height="471" src="http://tnsatu.org/wp-content/uploads/2019/01/Choirul-Amri-3.jpeg" alt="" class="wp-image-4069" srcset="https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2019/01/Choirul-Amri-3.jpeg 720w, https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2019/01/Choirul-Amri-3-300x196.jpeg 300w" sizes="(max-width: 720px) 100vw, 720px" /></figure>



<p><strong>Lulusan teknik</strong><br>Pria yang setiap pekan bolak-balik Jakarta-Ngawi ini sebenarnya tidak memiliki latar belakang di bidang ekonomi atau pun pariwisata. Choirul adalah seorang lulusan Teknik Industri STT Telkom Bandung. Keterampilan budidaya lele dan ternak kambing sebagian besar diperoleh dari internet dan bertanya-tanya.<br><br>Sebelum terjun ke dalam kegiatan komunitas masyarakat, Choirul telah melanglang buana ke berbagai negara. Ketika bekerja di Microsoft Indonesia, ia beberapa kali menggarap proyek IT di Malaysia, Thailand, Singapura, Brunei Darussalam, dan Amerika Serikat di antaranya.<br><br>Selama bekerja di Microsoft, Choirul bahkan sempat menyabet penghargaan Circle of Excellence Platinum Microsoft sebagai 25 Konsultan Dunia Terbaik pada 2013. “Saya bekerja hampir tidak ada hari libur selama satu tahun. Hasilnya, produktivitas saya mencapai 173 persen,” kenangnya sambil tersenyum.<br><br>Pada tahun yang sama, Choirul meminta izin atasannya untuk ke Chicago, AS. Ia ingin mengikuti pelatihan langsung dari Paul Randal, salah seorang tokoh Community Leader Database di Microsoft.<br><br>Merupakan kepuasan tersendiri ketika ia mampu menerima pelatihan langsung dari Randal. Seluruh mimpinya akhirnya terwujud; bekerja di Microsoft dan belajar langsung dari idolanya, Randal.<br><br>Ia kemudian memutuskan berpisah dengan Microsoft. Kini, untuk membiayai pengembangan kampung halamannya, Choirul menjadi konsultan salah satu perusahaan IT di Jakarta. Perusahaan tersebut memberinya keleluasaan soal waktu. Dengan begitu, ia tetap memiliki cukup waktu untuk memberdayakan komunitas Desa Kuniran.<br><br>Choirul tidak menyesal dengan keputusannya keluar dari Microsift. Sebab, impiannya untuk membuat Kuniran menjadi desa wisata kini pelan-pelan diwujudkannya.<br><br>“Memberdayakan manusia lebih penting ketimbang sekadar memberi bantuan. Pemberdayaan membuat mereka mampu menghidupi diri sendiri tanpa bantuan terus menerus,” ujarnya.</p>



<p><strong>BIODATA</strong><br>Nama: Muhamad Choirul Amri<br>Lahir: Ngawi, 24 Januari 1975<br>Istri: Santika Winoto (44)<br>Anak: <br>-Alisha Fathah (15)<br>-Arya Fathurrahman Amri (13)</p>



<p><strong>Pendidikan:</strong><br>SD Kuniran Satu, Ngawi (1981-1987)<br>SMP Sine, Ngawi (1987-1990)<br>SMA Taruna Nusantara Magelang jurusan IPA (1990-1993)<br>STT Telkom Bandung jurusan Teknik Industri (1993-1998)</p>



<p><strong>Karir:</strong><br>PT Nobi Putra Angkasa sebagai Production Engineer kemudian IT Manager (1998-2005)<br>Ilmukomputer.com sebagai Pendiri Bersama (2002)<br>Netway Utama sebagai Senior Developer (2005-2006)<br>Avantus Training sebagai Principle Trainer (2006-2011)<br>Microsoft Indonesia sebagai Konsultan spesialisasi Database (2011-2014)<br>eBiz Cipta Solusi sebagai Wakil Presiden Divisi Perusahaan (2014-sekarang)<br>Pendiri Rumah Inspirasi Nusantara (2018)</p>



<p><strong>Penghargaan:</strong><br>Microsoft Most Valuable Professional atau MVP (2005-2010).<br>Circle of Excellence Platinum Microsoft sebagai 25 Konsultan Dunia Terbaik (2013)</p>



<p><em>Sumber: </em><a rel="noreferrer noopener" href="http://taruna-nusantara-mgl.sch.id/2018/07/25/m-choirul-amri-tn-1-meninggalkan-puncak-mimpi-demi-rumah-inspirasi-nusantara/" target="_blank"><em>http://taruna-nusantara-mgl.sch.id/2018/07/25/m-choirul-amri-tn-1-meninggalkan-puncak-mimpi-demi-rumah-inspirasi-nusantara/</em></a><em> </em></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tnsatu.org/2018/07/25/m-choirul-amri-tn-1-meninggalkan-puncak-mimpi-demi-rumah-inspirasi-nusantara/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
