<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Sosial &#8211; TNSatu Institute</title>
	<atom:link href="https://tnsatu.org/category/sosial/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://tnsatu.org</link>
	<description>Kita Satu Menuju Indonesia Satu</description>
	<lastBuildDate>Sat, 11 Jul 2020 11:12:56 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.4.5</generator>

<image>
	<url>https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2019/01/cropped-favicon-32x32.jpg</url>
	<title>Sosial &#8211; TNSatu Institute</title>
	<link>https://tnsatu.org</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Secuil Kisah tentang Luluk</title>
		<link>https://tnsatu.org/2020/07/11/secuil-kisah-tentang-luluk/</link>
					<comments>https://tnsatu.org/2020/07/11/secuil-kisah-tentang-luluk/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Administrator TNSatu.org]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 11 Jul 2020 11:12:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[Sumber Daya Manusia]]></category>
		<category><![CDATA[Luluk Andriyanto Achmad]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tnsatu.org/?p=5468</guid>

					<description><![CDATA[Sudah lama saya ingin menulis tentang Luluk. Kawan seangkatan di SMA. Orang Lombok. Ketika mendengar namanya, sekilas yang berkelebat di]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Sudah lama saya ingin menulis tentang Luluk. Kawan seangkatan di SMA. Orang Lombok. Ketika mendengar namanya, sekilas yang berkelebat di kepala saya adalah seorang wanita. Nama Luluk, identik dengan nama seorang wanita. Itulah persepsi yang ada di benak saat pertama kali mengenalnya, pada 1990 lalu. Kalau membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) “luluk” bermakna lumpur. Setelah mengenal Luluk kawan SMA ini, barulah saya sadar bahwa nama Luluk itu berkelamin ganda: pria dan wanita&#8230; Beda dengan nama saya, Dodi. Jarang sekali wanita memiliki nama ini.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="944" height="623" src="https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2020/07/WhatsApp-Image-2020-07-11-at-18.01.02.jpeg" alt="" class="wp-image-5469" srcset="https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2020/07/WhatsApp-Image-2020-07-11-at-18.01.02.jpeg 944w, https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2020/07/WhatsApp-Image-2020-07-11-at-18.01.02-300x198.jpeg 300w, https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2020/07/WhatsApp-Image-2020-07-11-at-18.01.02-768x507.jpeg 768w" sizes="(max-width: 944px) 100vw, 944px" /></figure>



<p>Luluk kawan saya ini seorang pria. Pria sejati. Tulen. Dia seperti kata KBBI, mirip lumpur. Bisa mengalir ke mana saja. Cair. Bergaul ke sana ke mari. Masuk ke kalangan mana pun. Menyatu. Dikenal dengan sangat baik oleh seluruh teman seangkatan, dan diketahui dengan pasti oleh sebagian besar adik kelas. Minimal sampai angkatan ke-7, hehe angkatan pertama masuknya siswi di SMA kami. Bagi kami, kawan seangkatannya, Luluk menjadi simbol pergaulan dan persahabatan. Tak salah jika dalam organisasi internal angkatan, dia menjabat sebagai ketua bidang sinergi.</p>



<p>Beberapa tahun silam, puluhan tahun setelah tak berjumpa secara langsung, saya menyambangi Surabaya untuk urusan pekerjaan. Dalam grup komunikasi angkatan sering muncul kalimat, “Ke Surabaya kalau tak berjumpa Luluk, belum lengkap&#8230;” Luluk dan geng Surabayanya memberikan kesan positif bagi siapa pun kawan yang berkunjung ke Surabaya. Selalu ada “penyambutan khas” ala Luluk dan gengnya. Tentu saya tak mau ketinggalan kesan itu.</p>



<p>Sengaja saya sempatkan waktu untuk menemuinya. Bukan di cafe atau di mal, tapi di rumahnya. Meski sudah cukup malam, di atas jam 21, Luluk dengan suara riang gembira menyilakan saya datang. Dan&#8230; selama beberapa jam di rumahnya, penuh dengan kesan. Ribuan kata sarat cerita meluncur dari mulut kami berdua. Bernostalgia. Hanya berdua. Suit suiiit&#8230; sayang sekali Luluk yang ini berjenis kelamin pria, berjenggot panjang, dan bersuara bass.</p>



<figure class="wp-block-image size-large is-resized"><img decoding="async" src="https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2020/07/WhatsApp-Image-2020-07-11-at-16.11.27-576x1024.jpeg" alt="" class="wp-image-5471" width="392" height="697" srcset="https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2020/07/WhatsApp-Image-2020-07-11-at-16.11.27-576x1024.jpeg 576w, https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2020/07/WhatsApp-Image-2020-07-11-at-16.11.27-169x300.jpeg 169w, https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2020/07/WhatsApp-Image-2020-07-11-at-16.11.27.jpeg 720w" sizes="(max-width: 392px) 100vw, 392px" /></figure>



<p>Bukan hanya senang menyambut dan dikunjungi, Luluk juga kawan yang paling sering menyambangi kawan seangkatannya di berbagai kota. Minimal dalam hitungan saya. Tempat tinggal boleh saja di Surabaya (Sidoarjo tepatnya), namun langkah kakinya sangat jauh. Suatu hari dia bisa tiba-tiba berada di Yogyakarta, lalu di Jakarta, atau di kota lain. Sering tanpa rencana. Ujug-ujug. Padahal sebagian besar dari kami, harus merencanakan lama untuk pergi ke luar kota. Luluk tidak. Dia beda. Kadang saya bertanya-tanya juga, “Istrinya bagaimana? Keluarganya bagaimana? Pekerjaannya bagaimana?” Deretan pertanyaan yang tak pernah ditanyakan langsung kepadanya. Sungkan&#8230; Dia sering datang ke kota-kota di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi atau pulau lain bahkan sampai ke luar negeri, menyambangi kawannya di sana. Jarak, waktu, biaya, seperti bukan masalah buatnya.</p>



<p>Luluk itu dirindukan siapa pun. Bukan hanya di dunia nyata, tapi juga di dunia maya. Grup angkatan kami (WA atau telegram), tak seru tanpa kehadirannya. Nyaris setiap hari&#8230; eh setiap waktu, Luluk muncul. Ada saja idenya. Celotehnya. Dan, mampu memancing kawan yang lain untuk ikut berkomentar. Grup komunikasi itu menjadi selalu ramai dan seru. Hanya satu kawan yang mampu sedikit menyamai prestasi Luluk dalam ber-WA atau telegram. Iwan namanya. Sama-sama berdomisili di Surabaya. Padahal dia orang Ambon. Mereka berdua selalu online di grup itu. Kadang hanya berduaan saling melempar kata&#8230;  Saya bertanya-tanya lagi, “Istrinya bagaimana? Keluarganya bagaimana? Pekerjaannya bagaimana?” Deretan pertanyaan yang tak pernah saya tanyakan langsung. Sungkan&#8230;</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="768" height="1024" src="https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2020/07/WhatsApp-Image-2020-07-11-at-12.43.56-768x1024.jpeg" alt="" class="wp-image-5470" srcset="https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2020/07/WhatsApp-Image-2020-07-11-at-12.43.56-768x1024.jpeg 768w, https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2020/07/WhatsApp-Image-2020-07-11-at-12.43.56-225x300.jpeg 225w, https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2020/07/WhatsApp-Image-2020-07-11-at-12.43.56.jpeg 960w" sizes="(max-width: 768px) 100vw, 768px" /><figcaption>Luluk bersama alm Hidayanto BP</figcaption></figure>



<p>Semalam Luluk menangis. Air matanya mengalir deras. Baru kali ini saya melihatnya menangis seradikal itu. Terisak. Sesenggukan. Kata-katanya menghilang. Untung hanya terlihat lewat zoom, si aplikasi populer di masa pandemi Covid-19. Apa yang membuatnya menangis? Kisah tentang kawan-kawan kami yang meninggal lebih dulu. Air matanya menandakan kehilangan yang sangat atas kepergian kawan kami untuk selama-lamanya. Dan Luluk adalah kawan kami yang hampir selalu ada dan hadir mewakili angkatan untuk takziah, atau menemui keluarga kawan yang meninggal. Tak peduli di manapun dan kapan pun. Begitu dapat kabar meninggal, seperti kebiasaannya tanpa rencana keluar kota, dia langsung meluncur ke TKP. Sungguh, kami beruntung punya Luluk.</p>



<p>Dan sekarang, mengakhiri tulisan ini, air mata saya yang mulai mengalir&#8230;</p>



<p></p>



<p></p>



<p><em>Penulis :</em></p>



<p>Dodi Mawardi , dkk (Bidang Informasi TNSI)</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tnsatu.org/2020/07/11/secuil-kisah-tentang-luluk/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Refleksi Nilai-nilai Taman Siswa</title>
		<link>https://tnsatu.org/2020/02/04/refleksi-nilai-nilai-taman-siswa/</link>
					<comments>https://tnsatu.org/2020/02/04/refleksi-nilai-nilai-taman-siswa/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Administrator TNSatu.org]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 04 Feb 2020 05:31:07 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[Sumber Daya Manusia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tnsatu.org/?p=5383</guid>

					<description><![CDATA[Tulisan ini untuk mengenang Dr. Ismu Tri Parmi, M.Pd. (alm) dan jasa-jasanya dalam mempertahankan nilai-nilai Taman Siswa. Refleksi Nilai-Nilai Taman]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<h6 class="wp-block-heading"> <em>Tulisan ini untuk mengenang <strong>Dr. Ismu Tri Parmi, M.Pd.</strong> (alm) dan jasa-jasanya dalam mempertahankan nilai-nilai Taman Siswa</em>. </h6>



<p></p>



<p>Refleksi Nilai-Nilai Taman Siswa: Tribute kepada Ibu Dr. Ismu Tri Parmi, M.Pd. </p>



<p>(<em>“Penulis adalah keluarga besar TN1 yang merawat Alm. Bu Ismu di saat-saat akhir hidupnya. Mereka banyak berdiskusi, hingga berencana menerbitkan buku. Tetapi ajal lebih dulu menjemput Ibu kita&#8221;</em>)</p>



<p></p>



<p></p>



<p></p>



<p>Banyak anak bangsa tidak tahu apa sebenarnya arti
Taman Siswa yang didirikan oleh Bapak Pendidikan Nasional Ki Hadjar Dewantara
(KHD) di tahun 1920an. Pengikut KHD di era 1970an pun ketika ditanya tidak
mampu memberikan jawaban yang berarti, apa sebenarnya Taman Siswa. Mereka hanya
dapat menjelaskan:</p>



<p><em>“Kita ini pamong yang setiap saat selalu ada saat
dibutuhkan siswa….hubungan kami dengan siswa seperti keluarga…”</em></p>



<p>Apa itu pamong? Kalau sudah selalu berada di dekat
siswa, lalu apa artinya? Kalau tidak jelas begitu, <em>nggak usahlah</em> kita menerapkan pembelajaran Taman Siswa, kita buat
kurikulum nasional sendiri saja. Yang umum sajalah.</p>



<p>Kurang-lebih demikian dilema pengambil keputusan
di bidang pendidikan nasional saat KHD sudah tiada. Taman Siswa adalah sebuah filosofi
pendidikan yang sangat sulit dipahami sejak didirikannya bahkan sampai era saat
ini. Jatuh bangun organisasi Taman Siswa dengan nilai-nilai luhurnya merupakan
fluktuasi jaman yang sudah dianggap biasa. </p>



<p>Meskipun demikian, penulis ingin membagi sedikit
informasi dari arti Taman Siswa karena dua hal: Yang pertama karena penulis
mempelajari pendidikan lanjutan formal di bidang Ilmu Pendidikan Kedokteran;
yang terkait erat dengan Teori Belajar, yang merupakan dasar dari filosofi
Taman Siswa dan kedua karena penulis mengenal secara personal seorang pejuang
nilai-nilai ke-Taman Siswa-an yang tak kenal lelah sepanjang hayatnya, berada
di garis depan membela kepentingan anak didik; yang adalah generasi penerus
bangsa Indonesia. Ismu Tri Parmi adalah Doktor di bidang Pendidikan yang
membaktikan seluruh hidupnya, bertahan hingga ajal menjemput, demi tegaknya nilai-nilai
Taman Siswa. Beliau adalah salah satu pahlawan tanpa perlu tanda jasa. Namanya
akan harum sepanjang masa di bumi Indonesia.</p>



<p>Apa yang membuat seorang Ismu membela dengan segenap
jiwa raganya untuk memperjuangkan Taman Siswa? Sebenarnya nilai-nilai Taman
Siswa dapat dijelaskan. Saya yakin setelah memahaminya, Pembaca akan meneruskan
perjuangan beliau, meneruskan perjuangan KHD yang tidak lain dan tidak bukan
adalah demi masa depan calon-calon penerus Bangsa Indonesia, anak-cucu kita
semua.</p>



<p>Terlampir beberapa kutipan dari buku Kumpulan
Artikel Karya Ki Hadjar Dewantara jilid pertama (Tauchid, dkk, 1962 terbitan
Taman Siswa).</p>



<p>Tulisan Ki Hajar Dewantara didominasi dengan
harapan mengenai kemandirian yang bertanggung jawab sebagai keluaran dan sebuah
proses pendidikan yang berkualitas. Tak dapat dipungkiri bahwa hal ini
berkaitan erat dengan masa perjuangan kemerdekaan. Akan tetapi arti dari keluaran
yang mandiri dan bertanggung jawab dapat menjawab berbagai isu pendidikan sepanjang
jaman, seperti kualitas lulusan, lulusan berbudaya tinggi, dan manfaat lulusan
bagi orang banyak. </p>



<p>Tulisan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang
pertama di Indonesia; yang ditulis di awal abad 20 ini, menyentuh setiap
falsafah dasar ilmu pendidikan modern, dari setiap jenjang pendidikan mulai
kanak-kanak sampai pendidikan dewasa, sifat-sifat manusia, sisi kebudayaan,
pembelajaran berbasis realitas, sisi ilmu kejiwaan dan ilmu kesenian, ilmu
bahasa – komunikasi dan ilmu antropologi budaya yang keseluruhannya mendukung
kualitas keluaran sebuah proses pendidikan. </p>



<p>Mengapa KHD mengubah namanya dari Raden Mas
Suwardi Suryaningrat menjadi Ki Hajar Dewantara? Karena KHD tidak ingin ada
perbedaan antara yang disebutnya sebagai “kawula” dan “gusti”. Suatu ideologi
kesetaraan yang telah tercetus di masa kolonial Belanda di suatu konteks
hirarki sosial Jawa di awal abad 20 yang amat fundamental. Bisa dikatakan bahwa
KHD adalah “<em>leader”</em> yaitu Agen
Perubahan. Bukan dalam arti Pengelola alias “manager” dengan embel-embel gelar
sebagai pemimpin suatu organisasi. Di dalam buku kumpulan artikelnya yang
pertama ini juga tidak tercantum gelar Doktor Honoris Causa yang telah
didapatkannya dari Universitas Gadjah Mada. KHD sengaja berpesan pada panitia
pengumpul artikel-artikel beliau, supaya gelar tersebut tidak dicantumkan
dengan tujuan agar tidak membuat perbedaan-perbedaan dengan siapa? Dengan
muridnya, dengan masyarakat.&nbsp;&nbsp;&nbsp; </p>



<p>Munculnya karya besar KHD tentang Taman Siswa
dipengaruhi hasil diskusi kelompok Selasa Kliwonan yang terdiri dari kaum ningrat
dan alim ulama di masa muda beliau yang menggagas dan mencurahkan perhatian pada
metode-metode pembelajaran ala Jawa; seperti “Nang-Ning-Nung”,
“Bibit-Bebet-Bobot” dan “Cipta-Rasa-Karsa”. Selain itu juga dipengaruhi
perjalanan hidup KHD di Negeri Belanda tempat beliau menempuh pendidikan Akta
Guru. Prinsip-prinsip Froebel dengan Kindergarten-nya (Taman Kanak-Kanak),
Maria Montessori dari Itali dengan pendidikan anak usia dini, dan prinsip-prinsip
belajar berasrama dari Rabindranath Tagore, India merupakan referensi utama
dalam mendirikan Taman Siswa. Adalah Taman Siswa sebagai tempat berkembangnya
cikal bakal penerus bangsa Indonesia, dimana mereka tumbuh selayaknya
bunga-bunga yang mendapat siraman perhatian sepenuhnya dari para Pamong, untuk
tumbuh dan berkembang menjadi insan yang mandiri dan bertanggung jawab. Dalam
hal ini, Ki Hadjar Dewantara telah menggunakan bukti ilmiah pada masanya, untuk
membangun negaranya, dengan menambahkan bukti ilmiah kontekstual dari Indonesia
sendiri. Tulisan-tulisannya merupakan sumber referensi ilmiah yang juga mengacu
pada referensi-referensi ilmiah pada jamannya sehingga menambahkan manfaat pada
pohon pengetahuan di bidang pendidikan dan kebudayaan. Keilmiahan berbasis
bukti, inilah yang menjadikan Taman Siswa sesuatu yang fenomenal dan bukan
hanya sekedar ucapan seorang KHD.</p>



<p>Taman Siswa tidak
hanya terdiri dari satu istilah saja, akan tetapi terdiri dari berbagai
tahapan, mempunyai nama sendiri sesuai tahapan tumbuh – kembang anak didik. Ki
Hadjar menyebutkan Taman Indriya dengan penekanan pada asah-asih-asuh panca
indera, bagi anak-anak balita. Taman Siswa sendiri adalah sebutan untuk anak
usia Sekolah Dasar dimana memerlukan olah tubuh dan perhatian di masa awal
pubertas yang semaksimal mungkin. Taman Madya adalah sebutan untuk remaja usia
Sekolah Menengah Tingkat Satu dan Taman Dewasa adalah mempersiapkan kemandirian
yang bertanggung jawab bagi usia akhil baliq, setara Sekolah Menengah Atas.
Jangan lupa bahwa KHD juga memiliki perhatian terhadap pendidikan wanita dengan
Wanita Taman Siswa, dan untuk kaum petani dengan Taman Tani. Guru-guru sendiri
mendapat perhatian khusus melalui Taman Guru. Adapun perguruan Tinggi dinamakan
Taman Wiyata dari kata “Pawiyatan” yang berarti tempat menimba ilmu sepanjang
hayat.</p>



<p><strong>Kongres Taman Siswa I: 1930:
KHD menulis tentang <em>Perilaku Profesional</em>
dan mengulas tentang keluaran pendidikan nasional.</strong></p>



<p><em>“Budi pekerti adalah bersatunya gerak,
fikiran, perasaan dan kehendak atau kemauan yang lalu menimbulkan
tenaga&#8230;Dengan adanya Budi Pekerti, manusia berdiri sebagai manusia yang
merdeka (berpribadi) dapat memerintah sendiri (mandiri). “</em></p>



<p>Sebagai pengajar komunikasi profesi kesehatan dan perilaku
profesional di perguruan tinggi, penulis dan tim pengajar merasa kesulitan
karena setiap kali seolah-olah berhadapan dengan lulusan SMU yang sama sekali
belum pernah mendapatkan pelajaran mengenai dasar-dasar perilaku profesional
ini. Pendidikan Budi Pekerti sudah hilang dalam kurikulum nasional. Yang
berarti hilanglah kesempatan mengasah empati, yang merupakan dasar dari
kompetensi pendidikan apapun. Kepekaan sosial mungkin diajarkan di mata
pelajaran lain, namun biasanya disertai muatan keagamaan atau muatan
kenegaraan. Padahal kepekaan sosial mendasari kompetensi dari semua mata
pelajaran; lepas dari muatan apapun. Usaha memperbaikinya ketika siswa sudah
sampai pada tahap perguruan tinggi tidaklah optimal. Terlebih kurang dari dua
puluh persen lulusan SMU yang berkempatan menempuh pendidikan tinggi. </p>



<p><strong>Rapat Taman Siswa 3 Juli
1922: KHD mengulas tentang suri tauladan Guru atau <em>Role-Model</em>.</strong></p>



<p><em>“&#8230;Sekolah itu harus menjadi rumahnya guru&#8230;dari
dekat dan jauh datanglah murid kepadanya. Belajar dalam Paguron adalah soal
nomor dua&#8230;pawiyatan. Yang utama adalah tetap pribadinya guru yang memberikan
tuntunan hidup.”</em></p>



<p>“Setiap saat berada di dekat mereka…” sepertinya
kutipan ini tak asing lagi. Guru yang baik, seperti juga orang tua yang baik,
selalu berada setiap saat untuk membantu muridnya atau anaknya. Setiap saat
dapat diartikan pendidikan berasrama seperti yang dilakukan KHD dengan Taman
Siswa, dapat juga merupakan ungkapan yang menunjukkan respon yang cepat dan
tepat saat dibutuhkan, misalnya dengan bantuan teknologi informasi. Respon yang
lambat dan terkesan memberikan jarak bukan termasuk nilai-nilai Taman Siswa.
Apakah pendidik jaman sekarang memahami nilai-nilai ini? Indonesia dan Asia
pada umumnya, sangat terkenal dengan budaya hirarki sosial dimana Guru, Orang
Tua, Pemimpin, seolah-olah berada di tempat yang lebih tinggi sehingga
“ditakuti”, “disegani”, dan “membuat malu-malu” yang hirarki sosialnya
dipersepsikan lebih rendah, misalnya anak dan masyarakat. Clifford Geertz, seorang
antropolog dari Amerika di tahun 1950an sudah mengungkapkan hal ini; yang
setengah abad kemudian masih dapat dibuktikan dalam disertasi penulis, dalam
konteks hubungan Dokter-Pasien. Meskipun demikian, nyata bahwa KHD dengan
Taman-Siswanya – jauh sebelum penelitian Geertz, sudah menentang hirarki sosial
ini dan mengedepankan kesetaraan.</p>



<p><strong>Ulasan KHD tahun 1938 tentang
peran guru sebagai Tut Wuri Andayani</strong></p>



<p><em>“ Mereka itu (murid kita) lebih kurang seperti
murid-murid dari lain-lain sekolah, bedanya yaitu bahwa mereka berbuat
bersama-sama dengan kita, pemimpin-pemimpin mereka, meskipun tinggal di
belakang mereka, sebagai penasehat dan sebagai pemimpin-pemimpin yang berdiri
di belakang barisan. Dengan sikap <strong>Tut
Wuri Andayani</strong> ini, sering terjadi bahwa anak-anak kita berbuat suatu
kesalahan, sebelum atau tanpa tindakan kita pada saatnya. Itu tak mengapa, tiap
kesalahan akan membawa ke pidananya sendiri, kalaupun tidak, kita
pemimpin-pemimpin, mendorong datangnya hukuman yang – kalau tidak demikian –
tidak ada; dengan demikian tiap kesalahan itu bersifat mendidik. “</em></p>



<p>Ternyata, tidak semua Guru paham Tut Wuri Andayani
(TWA). Ada yang mengatakan bahwa kalau berada di belakang, kita ikut membantu.
Kita itu siapa? Ya kita ‘hanyalah pengikut’, kita ‘hanyalah bantu-bantu’. Tidak
benar, Pembaca yang Budiman. Justru dengan TWA itulah pemimpin yang sebenarnya.
Bukan selalu berada di depan dan dilihat orang banyak dan menjadi teladan. Di
belakang justru keteladanan dengan memberikan kebebasan bagi yang di depan, dan
memberikan segala daya upaya ketika terjadi sesuatu dengan yang di depan.
Itulah tugas yang tersulit menjadi seorang Guru atau Pemimpin.</p>



<p>Pembaca yang Budiman, penulis membuktikan dalam
penelitian tentang nilai-nilai Taman Siswa (yang didukung oleh Lembaga
Pendidikan UGM di tahun 2012) sebagai muasal dari Pembelajaran Berpusat pada
Siswa, bahwa Guru adalah fasilitator, bahwa Guru bukan hanya berdiri di depan
kelas dan mengajar, begitu juga seharusnya dengan seorang pemimpin, bahwa
berada di belakang, memberikan observasi langsung dan pemberian umpan balik
merupakan fondasi dari Teori Belajar Konstruktivisme. Teori yang baru ditemukan
di tahun 1930an, setelah KHD menemukan TWA.</p>



<p>Dari uraian di atas, dapat ditarik asumsi bahwa
pengikut KHD di tahun 1970an belum dalam menjelaskan apa itu nilai-nilai Taman
Siswa, karena barulah di abad 21 ini, Indonesia menggunakan istilah Kurikulum
Berbasis Kompetensi yang intinya adalah <em>Student-Centered
Learning </em>(SCL); adopsi dari negara-negara barat. Seandainya 40 tahun lalu
tahun itu mereka dapat menjawab – apa itu Taman Siswa – dengan jawabannya
adalah penjelasan panjang lebar tentang SCL; niscaya saat ini seluruh kurikulum
pendidikan nasional sudah menggunakan nilai-nilai Taman Siswa; nilai-nilai yang
asli dari Tanah Air Indonesia sendiri.</p>



<p><strong>Almanak Perguruan Taman
Siswa, 1942: Ulasan KHD tentang tugas guru yang mendukung kualitas keluaran
pendidikan: Kemandirian anak didik.</strong></p>



<p><em>&#8230;”Among – sistem kita yaitu mendukung
kodrat alamnya anak-anak yang kita didik, agar dapat mengembangkan hidupnya
lahir dan batin menurut kodratnya sendiri-sendiri.” &#8230;“Ngemong” sama artinya
dengan memberi kelonggaran pada anak untuk mendidik dirinya menurut kodratnya
sendiri.”</em></p>



<p>Tulisan di atas adalah penjelasan tentang fungsi ‘Pamong’.
Pamong dalam teori pendidikan diibaratkan seorang yang selalu mengikuti anak
yang ‘seolah-olah’ berusia 2 tahun kemanapun perginya, memberikan kebebasan
pikiran, tujuan dan tindakan, namun selalu siap siaga agar bila terjatuh dapat ditolong
setiap saat. Pamong ini memiliki sikap Tut Wuri Andayani. Demikianlah seorang
pendidik yang sebenarnya. Ia tidak akan berkata lebih banyak dari muridnya;
namun lebih banyak mengamati dan mendengarkan. Mengamati dan Mendengarkan,
bukan hal yang mudah dilakukan. Keduanya memerlukan panca indera yang tajam dan
terasah dengan baik. Benar adanya bahwa Tuhan YME memberikan dua mata, dua
telinga dan satu mulut pada manusia. Agar ia lebih banyak menyerap informasi
dan bukan berkata-kata yang tidak bermanfaat. </p>



<p>Seorang Pamong yang baik tidak akan hanya memberikan
informasi, namun memberikan umpan balik yang membangun. Dengan demikian
komunikasi dialogis terjadi antara Guru dan Murid dan disinilah awal dari kesetaraan
umat manusia. Pamong akan berkembang bersama ide-ide dari Sang Murid, sehingga
memberikan kesempatan kepada murid menjadi seorang “<em>leader</em>”, dengan memberikan arahan seperlunya tergantung usia murid.
Semakin dewasa maka arahan akan bersifat verbal dan non-verbal daripada
tindakan, misalnya dibandingkan dengan anak 2 tahun yang memerlukan pertolongan
kedua tangan.</p>



<p>Dari Pamong yang Tut Wuri, lahirlah calon-calon
pemimpin yang Andayani dan bertanggung jawab. Penulis ulangi bahwa “<em>leader</em>” disini berarti agen perubahan
dan bukan sekedar orang dengan label pemimpin sebuah organisasi dan hanya
bertindak secara administratif. Agen perubahan merupakan kebutuhan jaman
sekarang, sesuai arahan mantan Menteri Kesehatan Meksiko yang saat ini berkedudukan
sebagai peneliti di WHO dan di Harvard Medical School: Profesor Julio Frenk.
Agen perubahan diperlukan agar jaman menjadi lebih baik dan bukan <em>status quo</em>, yang mungkin memihak
kepentingan golongan tertentu. Demikianlah tuntutan keluaran pendidikan di era
saat ini haruslah mencetak “<em>leader</em>”
dan bukan sekedar menghasilkan ahli atau menghasilkan seorang profesional. Untuk
menjadi ahli dan menjadi profesional saja tidak mudah apalagi menghasilan “<em>leader</em>”.</p>



<p>Apabila Pembaca berkesempatan menilik kembali
butir-butir Pancasila sila ke-4 dengan simbol kepala banteng. Apakah terdapat
butir mengenai bagaimana menjadi seorang pemimpin? Butir mengenai musyawarah
dan mufakat cukup banyak, tapi belum ada penjelasan butir tentang menjadi
pemimpin dan lebih jauh lagi menjadi “<em>leader</em>”.
Ini berarti pembelajaran ‘leadership’ di Indonesia sangat urgen. Minimnya
pendidikan “leadership” bisa jadi merupakan penyebab minimnya figur pemimpin di
Indonesia saat ini. Pengambilan keputusan memang dilakukan dengan proses
musyawarah dan mufakat. Tetapi sebelum proses ini berlangsung, siapa “<em>leader</em>” nya? Kepala Banteng tentunya
merupakan simbol “<em>leader</em>” sehingga
dalam butir-butirnya perlu mencantumkan arti ‘leadership’ dan bukan sekedar
“manager” atau pengelola.&nbsp; Perlu dikaji
ulang nilai-nilai ‘leadership’ dari Pancasila yang originalitasnya, salah
satunya pernah dicetuskan oleh seorang Notonegoro, Guru Besar dari UGM.</p>



<p><strong>Pidato di Radio Republik
Indonesia Yogyakarta, 14 Januari 1940: Ulasan KHD tentang hubungan pendidikan
dan kebudayaan: </strong></p>



<p><em>“Pendidikan dan pengajaran itulah laku yang
bersifat kulturil&#8230;.kulturil adalah segala perbuatan manusia yang timbul dari
kemasakan budinya, yaitu buah dari kehalusan perasaannya (moril), buah dari
kecerdasan fikirannya, serta buah dari kekuatan kehendaknya, yaitu segala
tenaganya. Jadi kultur atau kebudayaan itu nyatalah buah dari “trisaktinya” manusia.
Dan kalau kita lihat segala ujud perbuatan manusia yang masak budinya itu
semuanya mempunyai sifat indah serta berfaedah oleh karenanya menambah
keselamatan serta kebahagiaan atau rahayu di dalam hidup manusia di dunia ini.”</em></p>



<p><strong>“</strong>Pendidikan adalah mempertajam pikiran dan
memperhalus perasaan.” Kiranya kata-kata Tan Malaka ini sesuai dengan tulisan
KHD di atas. Buah dari pendidikan yang baik adalah budaya, adat istiadat,
sistem masyarakat, yang akhirnya membentuk suatu Bangsa yang bermartabat dan berdaulat. Demikianlah KHD menjelaskan mengapa Pendidikan tidak
dapat dipisahkan dari Kebudayaan. Ini adalah pesan utama Dr. Ismu Tri Parmi (alm) dalam disertasi yang diselesaikannya dalam kurun
waktu kurang dari 3 tahun, belum lama berselang. Beliau adalah siswa yang
menempuh pendidikan dengan waktu tercepat dan nilai tertinggi di angkatannya di
Universitas Negeri Yogyakarta (dulu IKIP Yogya) ketika pendidikan sarjana, juga
ketika pendidikan doktoral. Beliau mengabdikan dirinya sampai akhir hayatnya di
SMA Taruna Nusantara Magelang.</p>



<p><strong>Majalah “Keluarga” Tahun ke
1 No 11 – Oktober 1937: Ulasan KHD tentang prinsip kesetaraan atau <em>partnership</em> di dalam sebuah keluarga.</strong></p>



<p><em>Dari perasaan cinta kasih inilah si-bapa dan
si-ibu lalu dapat menghilangkan rasa kemurkaan diri hingga dapat menghambakan
dirinya dengan seikhlas-ikhlasnya kepada keluarganya&#8230;bahwa selamat dan
bahagianya masing-masing anggota dari keluarganya itulah akan membawa
kenikmatan untuk ibu bapa dan lain-lain anggota keluarga. Disinilah letaknya
persatuan diri dengan masyarakat, kawula dengan pradja, yang dicita-citakan
segala macam pendidikan masyarakat&#8230;orang memakai perkataan lain yang sama
maksudnya yaitu persatuannya Kawula Gusti, karena yang dimaksud sebagai “gusti”
itu sesungguhnya atau (semestinya) tak bukan dan tak lain adalah lambang
persatuan rakyat yang merdeka. Persatuan rakyat yang merdeka terlihat
seterang-terangnya di dalam hidup keluarga.</em></p>



<p>Tulisan di atas mencerminkan betapa luas wawasan
dan ilmu pendidikan yang dimiliki KHD sehingga ia mendapat gelar Doktor Honoris
Causa dari UGM di tahun 1950an. Pendidikan selain terkait dengan Budaya juga
terkait erat dengan Ilmu Psikologi, dasar dari teori-teori belajar dan menuntut
belajar. Keberadaan keluarga sebagai tempat belajar pertama adalah amat
krusial. </p>



<p>‘Belajar bisa dilakukan di mana saja dan
tidak hanya di sekolah.’ </p>



<p>Ungkapan KHD ini mirip dengan ungkapan filsuf
Yunani Kuno 3000 SM: Lucius Seneca: </p>



<p>“Non Scholae Sed Vitae Discimus.” Belajar
bukan untuk sekolah tetapi untuk kehidupan.</p>



<p>Oleh karena itu banyak kemudian uraian dari KHD
tentang olah gending, sari-swara, yang intinya adalah mengajarkan kepekaan
dengan cara mengasah panca indera saat seseorang masih balita. KHD memulai
program pendidikan dengan mendirikan “Taman Indriya” bagi kanak-kanak (bukan
memulai dengan Taman Siswa). Disinilah dimulainya proses belajar bibit-bibit
penerus bangsa di periode usia emas. Usia yang mampu menyerap apapun yang ada
di sekelilingnya, sehingga membutuhkan asah-asih-asuh yang terbaik.</p>



<p>Pembaca yang Budiman, semakin jauh membaca
kumpulan artikel KHD, penulis merasa justru pengetahuan tentang Ilmu Pendidikan
semakin banyak untuk digali kembali dan tidak pernah merasa selesai membacanya
meskipun sudah diulang beberapa kali. Pemikiran pendiri Taman Siswa ini
demikian maju melampaui jamannya hingga puluhan tahun di depan, sehingga sulit
bagi awam memahaminya. </p>



<p>Namun apabila masih ada tujuan mempersembahkan
yang terbaik bagi Anak Negeri, dengan cara memberikan kesempatan untuk menjadi
insan mandiri dan bertanggung jawab, dan bukan dengan memanjakan dan bukan pula
dengan sikap otoriter yang mementingkan diri sendiri, disitulah nilai-nilai
Taman Siswa akan hidup, seperti juga nama kedua pahlawan tanpa tanda jasa di
dalam tulisan ini. Kalau negara-negara barat bangga dengan <em>Student-centered Learning </em>(SCL), mengapa Indonesia tidak bangga
dengan Taman Siswa yang sudah ada jauh sebelum SCL menjadi trendsetter
pendidikan di dunia? Taman Siswa adalah sesuatu yang luar biasa, bukan hal-hal
remeh. Taman Siswa merupakan hasil karya asli Bangsa Indonesia yang sudah
semestinya dimiliki oleh setiap insan Indonesia. </p>



<p>Berbangga dan berbahagialah Pembaca yang sempat
mengenyam pendidikan dengan nilai-nilai Taman Siswa. Sebuah proses belajar yang
baru di dekade terakhir merupakan trend pendidikan di dunia internasional. Tidak
setiap Anak Bangsa mendapat kesempatan emas ini. </p>



<p>Teruskanlah perjuangan kedua pahlawan yang tidak pernah
membutuhkan tanda jasa ini, dengan melestarikan nilai-nilai luhur dari Taman
Siswa bagi seluruh Anak Indonesia, sehingga kelak mereka dapat mempersembahkan karya
terbaik bagi masyarakat, bangsa, negara dan dunia.</p>



<p><em>“Selamat jalan Bu Ismu, mengenalmu adalah mengenal belajar sepanjang hayat.
Semoga Tuhan YME memberkati kami semua dengan bekal kemampuan belajar yang
engkau berikan; dan ilmu amaliyahmu tak akan pernah putus karena akan selalu
kami teruskan.”</em></p>



<p><strong>++++++++++++++++++++++++++++++</strong></p>



<p><em>Penulis :</em></p>



<p><strong>dr. Mora Claramita, MHPE., Ph.D.</strong></p>



<ul><li>Tim UGM dalam Menggali Nilai-nilai Luhur Ki Hadjar Dewantara </li><li> Doktor di Bidang Pendidikan Kedokteran dari Universitas Maastricht Negeri Belanda </li><li> Kepala Departemen Pendidikan Kedokteran dan Bioetika Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan &#8211; Universitas Gadjah Mada  </li></ul>



<p></p>



<p></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tnsatu.org/2020/02/04/refleksi-nilai-nilai-taman-siswa/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pompa Hidrolik Kolonel Cpl Simon Berhasil Atasi Kekeringan 50 Titik Nusantara dan Raih Rekor Muri</title>
		<link>https://tnsatu.org/2019/12/31/pompa-hidrolik-kolonel-cpl-simon-berhasil-atasi-kekeringan-50-titik-nusantara-dan-raih-rekor-muri/</link>
					<comments>https://tnsatu.org/2019/12/31/pompa-hidrolik-kolonel-cpl-simon-berhasil-atasi-kekeringan-50-titik-nusantara-dan-raih-rekor-muri/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Administrator TNSatu.org]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 30 Dec 2019 17:30:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[Simon Petrus Kamlasi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tnsatu.org/?p=5397</guid>

					<description><![CDATA[JAKARTA, TRANS89.,COM –&#160;Setelah berhasil mengatasi krisis kekeringan air lebih dari 50 titik se-nusantara dengan 108 pompa hidrolik Kartika, kedepannya diperlukan]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="653" height="366" src="https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2020/02/Jakarta-Pompa-Hidrolik-Kolonel-Cpl-Simon-Berhasil-Atasi-Kekeringan-50-Titik-Nusantara-dan-Raih-Rekor-Muri-1-653x366-1.jpg" alt="" class="wp-image-5398" srcset="https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2020/02/Jakarta-Pompa-Hidrolik-Kolonel-Cpl-Simon-Berhasil-Atasi-Kekeringan-50-Titik-Nusantara-dan-Raih-Rekor-Muri-1-653x366-1.jpg 653w, https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2020/02/Jakarta-Pompa-Hidrolik-Kolonel-Cpl-Simon-Berhasil-Atasi-Kekeringan-50-Titik-Nusantara-dan-Raih-Rekor-Muri-1-653x366-1-300x168.jpg 300w" sizes="(max-width: 653px) 100vw, 653px" /><figcaption> Kepala Peralatan Kodam (Kapaldam) Jayakarta, Kolonel Cpl Simon Petrus Kamlasi saat terima Rekor Muri dari Jaya Suprana. (Doblang Dispenad/Trans89.com) </figcaption></figure>



<p><strong>JAKARTA, TRANS89.,COM –</strong>&nbsp;Setelah berhasil mengatasi krisis kekeringan air lebih dari 50 titik se-nusantara dengan 108 pompa hidrolik Kartika, kedepannya diperlukan kombinasi sistem pompa berbasis energi terbarukan.</p>



<p>Hal tersebut disampaikan Kepala Peralatan Kodam (Kapaldam) Jayakarta, Kolonel Cpl Simon Petrus Kamlasi saat dihubungi melalui telepon selulernya di Jakarta, Senin (30/12/2019).</p>



<p>Menurut alumni Akmil 1996 ini, setelah menerima beberapa penghargaan dari Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) dan tercatat dalam Rekor MURI, memacu dirinya untuk terus berkarya lebih.</p>



<p>“Atas penghargaan itu, saya terus meningkatkan kapasitas pemasangan pompa, antara lain di Nusa Tenggara Timur (NTT) pulau Flores, Kabupaten Kupang, kemudian di Timur Tengah Selatan (TTS),” ujar Kolonel Simon.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="800" height="348" src="https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2020/02/Jakarta-Pompa-Hidrolik-Kolonel-Cpl-Simon-Berhasil-Atasi-Kekeringan-50-Titik-Nusantara-dan-Raih-Rekor-Muri-2.jpg" alt="" class="wp-image-5399" srcset="https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2020/02/Jakarta-Pompa-Hidrolik-Kolonel-Cpl-Simon-Berhasil-Atasi-Kekeringan-50-Titik-Nusantara-dan-Raih-Rekor-Muri-2.jpg 800w, https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2020/02/Jakarta-Pompa-Hidrolik-Kolonel-Cpl-Simon-Berhasil-Atasi-Kekeringan-50-Titik-Nusantara-dan-Raih-Rekor-Muri-2-300x131.jpg 300w, https://tnsatu.org/wp-content/uploads/2020/02/Jakarta-Pompa-Hidrolik-Kolonel-Cpl-Simon-Berhasil-Atasi-Kekeringan-50-Titik-Nusantara-dan-Raih-Rekor-Muri-2-768x334.jpg 768w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /></figure>



<p>Menurutnya, jika warga memerlukan pemasangan pompa, maka dapat melaporkannya ke Komando Teritorial (Kodim/Korem) setempat atau juga dapat mengajukan surat permohonan ke Pangdam Jaya.</p>



<p>“Setelah itu, tim survei akan mengecek kondisi wilayah untuk mengetahui berapa wawancara jarak capai, jumlah pompa yang dibutuhkan, karena pemasangan pompa tergantung potensi air dan rekayasa medan serta dukungan anggaran yang ada,” tutur Kolonel Simon.</p>



<p>Ia menjelaskan, selama ini dukungan anggaran diberikan dari bantuan para pimpinan TNI yakkni Kasum, Pangdam, para Komandan Kewilayahan beberapa tokoh masyarakat, serta yayasan gereja dimana waktu yang dibutuhkan dalam pemasangan pompa Kartika tergantung dari medan dan bahan baku yang didapat.<ins></ins></p>



<p>“Kalau pulau Jawa kurang lebih sebulan, karena bahan baku mudah didapatkan, jika diluar Jawa akan memakan waktu yang lebih, karena dukungan anggaran diberikan secara sosial, maka terkadang pengerjaan dan pembangunan terhenti di tengah jalan,” jelals Kolone Simon.</p>



<p>Selain itu, kata Kolonel Simon, salah satu kendala yang dihadapi ketika kondisi psikologis masyarakat yang tidak mempercayai bahwa air akan sampai atas gunung dan dapat mengalir.</p>



<p>“Imbasnya, keikusertaan mayarakat dalam membantu pemasangan pompa masih ragu-ragu dan tidak masif,” katanya.</p>



<p>Kolonel Simon menyebutkan, konsep ke depan karena keinginan ini menyeluruh, maka diperlukan sistem listrik tenaga air yang berbasis energi terbarukan seperti tenaga surya. Saat ini, lanjutnya, kita telah merintis dan mencoba alternatif lain menggunakan tenaga surya.</p>



<p>“Pompanya bisa lebih effektif, ketika air dinaikkan sampai titik tertentu dan butuh penyebaran, maka akan lebih lancar dengan menggunakan tenaga surya,” sebutnya.</p>



<p>Kolonel Simon berharap, kedepannya perlu adanya pembekalan kepada mitra-mitra di daerah maupun para aparat Komando Teritorial sehingga dapat merespon dengan cepat kekeringan diberbagai wilayah yang pasti ada.</p>



<p>“Air merupakan kebutuhan mendasar dan saat ini TNI dapat menjawabnya dengan dukungan penuh dari seluruh lapisan dan lembaga masyarakat,” imbuhnya. <strong><em>(Doblang/Nis).</em></strong></p>



<p>    </p>



<p>     </p>



<p><em>Sumber :</em></p>



<p><a href="https://trans89.com/2019/12/30/pompa-hidrolik-kolonel-cpl-simon-berhasil-atasi-kekeringan-50-titik-nusantara-dan-raih-rekor-muri">https://trans89.com/2019/12/30/pompa-hidrolik-kolonel-cpl-simon-berhasil-atasi-kekeringan-50-titik-nusantara-dan-raih-rekor-muri</a></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tnsatu.org/2019/12/31/pompa-hidrolik-kolonel-cpl-simon-berhasil-atasi-kekeringan-50-titik-nusantara-dan-raih-rekor-muri/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>AKBP Hendra Wirawan Dianggap Sangat Dekat dengan Masyarakat</title>
		<link>https://tnsatu.org/2017/03/24/akbp-hendra-wirawan-dianggap-sangat-dekat-dengan-masyarakat/</link>
					<comments>https://tnsatu.org/2017/03/24/akbp-hendra-wirawan-dianggap-sangat-dekat-dengan-masyarakat/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Administrator TNSatu.org]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 24 Mar 2017 11:49:21 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[Hendra Wirawan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://tnsatu.org/?p=4225</guid>

					<description><![CDATA[BORNEONEWS, Sampit &#8211; AKBP Hendra Wirawan yang sebelumnya telah menjabat selama 22 bulan sebagai Kapolres Kotawaringin Timur (Kotim) dianggap sangat]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>BORNEONEWS, Sampit &#8211; AKBP Hendra Wirawan yang sebelumnya telah menjabat selama 22 bulan sebagai Kapolres Kotawaringin Timur (Kotim) dianggap sangat dengan masyarakat di daerah ini.<br> <br>Seperti yang dikatakan Koordinator Forum Bersama (Forbes) Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Kotim, Audy Valent, di mana dirinya menganggap bahwa Hendra sangat dekat dengan masyarakat dan jugaa tokoh agaama maupun adat.<br> <br>Dengan kedekatannya tersebut, sehingga membuat daerah yang kita cintai ini kondusip dan aman, ujar Audy, kepada Borneonews.co.id, Jumat (23/3/2017).<br> <br>Selain itu Audy mengakui bahwa kinerja Hendra sangat baik, dimana pada kepemimpinananya menjadi kapolres, banyak kasus-kasus kriminal, baik itu naarkoba, pembunuhan, pencabulan, dan jugaa pencurian, diselesaikan sampai ke meja hijau.<br><br>Beliau mampu meredam penyakit masyarakaat, seperti peredaran miras, obat terlarang, judi, prostitusi, maupun pencurian, kata Audy.<br><br>Dengan adanya haal itu, pihaknya sangaat berterimakasih kepada Hendra karena sudah bekerja dengan sangat baik, dan menjadikan Kotim ini aman dan kondusip.<br><br>Dirinya juga ingin kedepan Kapolres Kotim AKBP Johanes Pangihutan Siboro bisa melanjutkan kepemimpinan kapolres lamaa. Bisa menjalin hubungan yang haarmonis kepada elemen masyarakat. Hal itu dilakukan demi kondusifitas Kotim yaang aman dan damai.<br> <br>Ditengah krisis yang tengaah terjadi, maka kemanan sangat diharapkan, harap Audy. (MUHAMMAD HAMIM/B-5) </p>



<p><em>Sumber: </em><a rel="noreferrer noopener" href="https://www.borneonews.co.id/berita/57510-akbp-hendra-wirawan-dianggap-sangat-dekat-dengan-masyarakat" target="_blank"><em>https://www.borneonews.co.id/berita/57510-akbp-hendra-wirawan-dianggap-sangat-dekat-dengan-masyarakat</em></a><em> </em></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tnsatu.org/2017/03/24/akbp-hendra-wirawan-dianggap-sangat-dekat-dengan-masyarakat/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
